Minat baca di Indonesia masih menunjukkan angka yang rendah. Menurut data statistik dari UNESCO, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Angka ini menunjukkan bahwa hanya satu dari 1.000 penduduk yang memiliki ketertarikan untuk membaca. Indonesia juga berada pada urutan ke 69 dari 127 negara menurut indeks pembangunan pendidikan. Bila dimisalkan dalam hitungan per tahun, satu judul buku per orang bahkan tidak selalu selesai dibaca.

Mengapa Indonesia bisa memiliki kesadaran literasi yang rendah? Ada beberapa penyebabnya, salah satunya adalah keterbatasan akses terhadap buku. Tidak hanya itu, rendahnya minat baca juga berhubungan dengan akses terhadap pendidikan. Buku sebagai sumber pengetahuan yang secara fisik wujudnya, seharusnya bisa dikenalkan sejak dini. Mengikuti perkembangan teknologi kini, membaca tidak harus melalui buku maupun media cetak lainnya, tapi juga bisa melalui media digital, sehingga dapat dilakukan di mana saja. Sayangnya, meski sumber bacaan melimpah, tapi keterbatasan membaca ini bukan hanya karena akses ke media saja tapi juga akses ke pendidikan dasarnya. Ibaratkan literasi dan pendidikan adalah satu rantai yang saling terkait, apabila pendidikan mudah diakses maka akan terjadi peningkatan angka literasi, yang akan meningkatkan standar pendidikan masyarakat juga nantinya. Permasalahan seperti ini menjadi wujud akan belum adanya kesetaraan bagi setiap masayarakat di Indonesia untuk memperoleh akses pendidikan, terutama bagi yang miskin dan kaya, atau yang tinggal di kota dan pinggiran.

Sebagai bentuk upaya untuk memperlebar akses pendidikan bagi masyarakat secara utuh, pada tahun 2012 Kemendikbud mencanangkan program Kampung Literasi. Kampung Literasi merupakan sebuah program yang bertujuan untuk penyetaraan layanan pendidikan dan keaksaraan. Kampung Literasi bertujuan untuk mewujudkan masyarakat melek aksara, yang bisa ditempuh melalui jalur pendidikan non-formal, dan dapat dilakukan oleh lembaga/organisasi maupun perkumpulan yang ada di masyarakat. Kampung Literasi menyediakan layanan informasi yang berkaitan dengan pendidikan, sosial budaya, seni, hukum, ekonomi, kesehatan, dan teknologi informasi. Semua untuk memfasilitasi masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan skill yang beragam. Bentuknya dapat berupa buku maupun non-buku yang disediakan pada TBM (Taman Bacaan Masyarakat), pojok baca, gardu baca, warung baca, maupun bentuk lainnya.

Program ini memiliki dua pendekatan yang bisa dilihat melalui konteks frasanya. Yang pertama adalah “Kampung”, yang dapat diartikan secara fisik (geografis) dan sosial (kultur). Dan yang kedua adalah “Literasi”, yang bermakna kemampuan untuk melek huruf. Kedua kata ini menjadi dasar kebutuhan akan adanya pengenalan terhadap apa yang disebut sebagai kampung secara fisik dan sosial, terutama kampung merupakan lokasi sasaran pelaksanaan program. Kampung bukan berarti hanya memiliki sisi fisik maupun hanya sosial saja namun juga mengampu keduanya untuk berjalan beriringan seperti dua sisi uang koin. Itulah mengapa selain pemimpin administratif, perlu juga melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, budayawan, dan sastrawan dalam unsur pengelolaannya, sebeagai pemerhati bentuk kearifan lokal yang bisa terus berdaya.

Sementara itu, kemampuan literasi menjadi hasil yang diharapkan dalam program ini. Yang mana penyampaian kegiatan-kegiatannya perlu tertuang secara jelas dan rinci, agar tepat sasaran dan efektif dalam implementasinya kelak. Pertimbangannya, mungkin karena program ini bersifat fluid untuk menyesuaikan dengan kondisi di kampung sasarannya.  Namun ini sudah bisa dikatakan sebagai titik tolak pemerintah dalam upayanya untuk memperhatikan kondisi literasi masyarakat yang memprihatinkan. Melalui fasilitas-fasilitas yang terwujud dalam program ini, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan minat membaca untuk secara perlahan dan pasti ikut meningkat pula kualitas sumber dayanya.