Sampah menjadi salah satu permasalahan di perkotaan. Permasalahan sampah datang dari pola konsumtif masyarakat, terutama bila kita melihat Yogyakarta sebagai destinasi pariwisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Yogyakarta memproduksi sebanyak 900 ton sampah per harinya. Sekitar 20-40% sampah organik berhasil terpilah, sementara sisanya ditampung ke TPA Sitimulyo, Piyungan, Kabupaten Bantul. Yang berarti, ada sekitar 540-720 ton tambahan sampah per hari yang minim mendapat tindakan.

Menghadapi masalah ini, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul mencoba berinovasi dengan mengolah sampah plastik menjadi barang bernilai guna, yaitu material struktur bangunan RISHA. RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) merupakan sistem konstruksi yang bersifat sederhana, umumnya menggunakan semen atau beton. Seperti permainan LEGO, cara pemasangannya menggunakan sistem bongkar-pasang (lockdown) dari komponen-komponen modular yang dibuat secara fabrikasi. Pada umumnya, RISHA menggunakan semen atau beton sebagai materialnya. Bedanya, Pemerintah Kabupaten Bantul mampu berinovasi dengan memanfaatkan sisa limbah plastik sebagai materialnya.

Dwi Wantoro, ST. MT., selaku Kepala Seksi Persampahan DLH Kabupaten Bantul, merupakan inisiator dari inovasi ini. Beliau menyadari sulitnya mengurai sampah plastik, karena sifatnya yang anorganik. Pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan tangan pun belum dapat mengurangi jumlah sampah di tempat pembuangan akhir. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi lain yang bisa membantu untuk mengurangi volume sampah terutama plastik, serta menghasilkan suatu barang yang bisa digunakan secara masal.

Bahan yang diperlukan dalam pembuatan panel RISHA dari limbah sampah adalah tungku/kuali, sampah plastik, dan mesin pencetak bangunan. Proses pembuatannya pun terbilang mudah dan terkategori sebagai ramah lingkungan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan sampah-sampah plastik

Kantong kresek lebih mudah larut saat dibakar

Sumber: baliclean.dumbstrack.org (diakses 8 Februari 2018)

 

 

 

2. Sampah-sampah plastik yang telah dikumpulkan dibakar ke dalam kuali sampai larut menjadi sampah bubur:

Proses meleburkan sampah plastik ke dalam kuali

Sumber : Inovasi DLH Bantul, Liputan AdiTV, 2017.

 

 

 

3. Setelah menjadi bubur sampah, dicetak ke dalam mesin cetakan material bangunan,

Bentuk cetakan material bangunan

Sumber : Inovasi DLH Bantul, Liputan AdiTV, 2017

 

 

 

4. Terbentuk panel-panel untuk bangunan RISHA.

Panel RISHA dari limbah plastik

Sumber : Inovasi DLH Bantul, Liputan AdiTV, 2017.

 

 

 

Dalam pelaksanaannya, masih ada beberapa kendala yang dialami dari segi teknik pembuatan dan sumber daya. Penggunaan alat yang masih tradisional, seperti kuali, belum bisa mengatur panas secara optimal sehingga belum selalu mampu menghasilkan cetakan panel yang rapi. Dari segi sumber daya, belum banyak orang yang mengetahui teknik ini, sehingga butuh banyak percobaan dan masukan dari para ahli supaya produk dapat tepat guna. Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus untuk pengembangan selanjutnya. Ir. Wahid, selaku Kepala Bidang Persampahan Pengelolaan Limbah dan Pengembangan Kapasitas B3, mengatakan masih butuh riset lebih lanjut untuk menghitung seberapa banyak sampah plastik yang telah tertampung, sehingga dapat dirancang teknologi yang tepat. Kemudian perlu dipikirkan pula bagaimana pemanfaatannya di masa depan, supaya bisa digunakan secara komprehensif dan tepat guna. Misalnya, selain digunakan sebagai bahan bangunan, olahan limbah plastik ini juga dapat dimanfaatkan sebagai material aspal.

Modular RISHA berbahan plastik merupakan wujud penerapan 3R, yaitu mengurangi penggunaan plastik, mendaur ulang, dan meningkatkan nilai ekonomi, Tidak hanya ramah lingkungan, dan harga terjangkau, modular ini pun kuat dan aman bencana. RISHA berbahan plastik diperkirakan mampu menahan beban seperti rumah pada umumnya, serta tahan gempa hingga 8,5 SR.

Pemerintah Kabupaten Bantul mengharapkan lebih banyak lagi kajian dan proses percobaan yang dilakukan, supaya struktur RISHA dapat digunakan untuk struktur bangunan rumah yang layak huni, sehat, kuat, dan aman. Hal ini penting, supaya masyarakat tidak lagi memandang sampah sebagai permasalahan klasik, namun sebagai solusi bagi pembangunan di masa depan. Perlu juga kerjasama dengan pihak swasta dan individu untuk mengembangkan modular RISHA berbahan plastik ini.

Selain melalui RISHA, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul juga berinovasi membangun rumah pilah sampah di 17 kecamatan yang tersebar di seluruh kabupaten. Ditargetkan terbangun tahun ini, rumah pilah ini nantinya akan menjadi sarana pemilahan sampah organik dan anorganik sesuai jenisnya. Terobosan-terobosan tersebut bertujuan untuk menyukseskan program Pemerintah Kabupaten Bantul bebas sampah di tahun 2019, serta mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih dan aman bagi masyarakat Bantul dan sekitarnya.