Jumlah penduduk yang terus bertambah di suatu wilayah akan berdampak pada peningkatan kebutuhan rumah, khususnya di kawasan perkotaan. Di Indonesia, perkembangan perumahan berkaitan erat dengan penggunaan energi khususnya terkait penggunaan listrik. Banyak peralatan di dalam rumah yang bergantung pada energi listrik seperti untuk penerangan, pendukung alat komunikasi hingga memasak. Data skala nasional menunjukkan bahwa konsumsi terbesar dari energi listrik ada pada sektor rumah tangga (40%), disusul sektor industri (37%), sektor komersial (17%) dan sektor publik (6%). Setiap tahun mengalami peningkatan pemakaian untuk rata-rata seluruh sektor sekitar 3%-13% (Prokum ESDM, 2013).

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, rata-rata penggunaan energi untuk sektor rumah tangga mencapai 56%. Angka ini lebih besar dibandingkan dengan konsumsi energi nasional untuk untuk rumah tangga nasional. Angka penggunaan energy yang cukup besar untuk sektor rumah tangga ini perlu menjadi perhatian khusus oleh pemerintah mengingat sumber energi yang tersedia saat ini bergantung pada sumber daya yang tidak dapat diperbarui seperti batubara.

 

Gambar 1 Konsumsi Energi Nasional dan DIY Tahun 2017

sumber : BPS DIY tahun 2017

 

Peningkatan penggunanaan energi bagi rumah tangga dapat meningkatkan inefesiensi energi yang dapat berakibat buruk pada lingkungan seperti efek rumah kaca hingga peningkatan suhu global. Apalagi, saat ini juga banyak pembangunan rumah yang tidak ramah lingkungan seperti tidak memperhatikan aspek penghijauan sekitar rumah, hingga halaman rumah yang diberi material beton sehingga tidak memiliki resapan air alami. Untuk mewujudkan rumah yang lebih ramah lingkungan, konsep rumah ramah energi dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat diimplementasikan.

 

Konsep Rumah Hemat Energi

Rumah Hemat Energi ialah pengembangan perumahan terhadap penggunaan konsumsi rumah tangga terhadap listrik, air, sampah, dan memanfaatkan sumber daya lingkungan sekitar dan mampu memperhitungkan penggunaan energi pada bangunan yang dihitung sejak awal penyediaan material bangunan, proses pembangunan, sampai saat bangunan ditempati (Hemat Energi dan Lestari Lingkungan Melalui Bangunan). Pengembangan Rumah Hemat Energi ini dilakukan sebagai tahapan untuk merancang suatu solusi dalam membangun rumah yang hemat energi, berkelanjutan, dan memberikan kenyamanan bagi pemilik hunian.

Konsep rumah hemat energi ini berkaitan dengan penggunaan material bangunan yang memegang peran penting dalam mewujudkan bangunan yang hemat energi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Aspek penghematan dan ramah lingkungan terdapat pada efesiensi penggunaan listrik dan air, biaya dan tenaga pengerjaan bangunan yang hemat, dan  penggunaan material bekas atau daur ulang. Selain itu, penerapan pengembangan perumahan hemat energi dapat diimplementasikan melalui rekayasa teknologi yang berpegang pada prinsip-prinsip penghematan energi dengan mempertimbangkan sistem penghawaan, pencahayaan, sanitasi, dan penggunaan bahan bangunan.

Pembangunan rumah hemat energy dapat dilakukan secara mandiri oleh pemilik rumah. Untuk mengembangkan rumah hemat energi, penghuni dapat melakukan beberapa cara, diantaranya adalah

  • pengelolaan lahan yang tepat dan proporsional yang memadai untuk terjadinya penyerapan air, terjadinya ventilasi dan pencahayaan alami, pemilihan vegetasi, penghematan kebutuhan cahaya melalui pemanfaatan energi matahari (panel surya)
  • pemilihan massa bangunan, tata letak peruangan dalam bangunan, dan pemilihan material bangunan yang hemat energi dan ramah lingkungan, seperti bahan bangunan lokal, batu alam, dan vegetasi/tanaman, seperti pepohonan yang dapat menyerap udara, cahaya, dan polusi
  • mengefesiensikan energi listrik dan penerapan hemat air pada bangunan
  • memanfaatkan pergerakan angin untuk diolah agar memberikan penghawaan yang nyaman

 

Implementasi Permukiman Hemat Energi di DIY

Dalam mengendalikan penggunaan energi dalam sektor rumah tangga, pada tahun 2012 pemerintah Indonesia memilih Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, DIY sebagai proyek percontohan untuk penggunaan energi secara hibrid antara penggunaan panel surya dan kincir angin (regional.kompas.com). Sumber energi terbarukan tersebut akan menghasilkan energy listrik untuk menerangi desa di kawasan Pantai Baru. Desa ini memiliki pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) berupa  Kincir Angin yang berjejer di tepi Pantai Baru dan Panel Surya. Kincir Angin berjejer rapi dengan tinggi tiang berkisar antara 10 hingga 15 meter.

Dalam membangun hunian yang hemat energi, diperlukan adanya perencanaan yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Dengan mempertimbangkan peningkatan konsumsi energi yang didominasi oleh sektor rumah tangga khususnya di DIY, maka untuk mengembangkan rencana pengembangan perumahan hemat energi perlu memperhatikan beberap hal sebagai berikut:

  • melakukan penyusunan rencana yang detail terhadap identifikasi permasalahan, upaya penyelesaian, dan konsep pengembangan yang akan dilakukan, seperti prioritas lokasi atau daerah yang potensial untuk menjadi objek pengembangan perumahan hemat energi berdasarkan karakteristik fisik dan non fisik kawasan
  • melakukan kajian dan kesiapan material/bahan bangunan yang hemat energi
  • melakukan riset yang lebih mendalam terhadap kesiapan pelaksanaan program
  • mengorganisasikan stakeholder yang terlibat dalam penyusunan rencana, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi kegiatan
  • menyusun pelaksanaan kegiatan yang detail sesuai dengan tahapan program pengembangan hingga tahap akhir pengawasan program

 

Garakan untuk mewujudkan rumah hemat energi ini perlu dilakukan secara lebih massif untuk mewujudkan perumahan yang ramah lingkungan. Dengan demikian, dari unit  kecil berupa rumah akan berpartisipasi dalam upaya mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan di masa mendatang.  (FRA/KP)