Siapa yang tak kenal dengan generasi millenial? Generasi millenial merupakan sebutan bagi mereka/WNI yang lahir dari tahun 1980-2000. Di Indonesia saat ini, jumlahnya sekitar 30% (80 Juta Jiwa) dari total penduduk dan jumlahnya akan terus bertambah. Pertumbuhan penduduk semakin meningkat seiring angka kelahiran maupun adanya fenomena urbanisasi yang juga meningkat.

Perlu kita sadari, peningkatan penduduk ini akan sebanding dengan meningkatnya kebutuhan setiap WNI akan tempat tinggal (hunian). Apa hubungannya dengan hunian bagi generasi millenial? Sebagai kaum millenial, tentu  kebutuhan perumahan dianggap sebagai kebutuhan pokok dan perlu mengetahui skema pembiayaan apa yang cocok sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi.

Secara umum pemerintah telah menyediakan empat program untuk ketersediaan rumah, diantaranya, yaitu:

  1. Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang dananya bersumber dari APBN dan APBD, serta swasta yang diperuntukkan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
  2. FLPP yang 90% dibiayai oleh pemerintah, sementara sisanya diberikan oleh perbankan.
  3. Subsidi Selisih Bunga Kredit Perumahan (SSB) yang bersumber dari APBN.
  4. Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) yang dananya bukan bersumber dari APBN.

Namun, program penyediaan rumah ini masih mengalami kelemahan dan belum mencapai target. Demikian juga dengan kebutuhan hunian bagi generasi millenial cukup penting dibicarakan. Dengan program yang sudah ada, bagi kaum millenial tentu menjadi pertimbangan dalam memilih program yang akan diikuti.

Adanya gaya hidup yang berbeda, generasi yang sangat konsumtif dengan kemajuan teknologi, hobi melakukan pembayaran non-cash, suka dengan yang serba cepat dan instan, serta ‘sharing is cool’ melalui sosial media. Dengan perilaku yang sudah mengakar dari dalam generasi ini, maka inovasi pembiayaan perumahan bagi generasi millenial diharapkan dapat disesuaikan dengan upah kerja dan harga rumah yang nilainya terjangkau. Inovasi pembiayaan perumahan ini dapat dilakukan dengan skema pembiayaan yang memanfaatkan perkembangan teknologi.

Bagi pemerintah, perlu melakukan kajian lebih mendalam terkait model dan inovasi kebutuhan hunian bagi kaum millenial dalam penyediaan perumahan, seperti kerjasama dengan Bank, stakeholder, dan pebisnis properti perumahan. Pemerintah juga sebagai pelaksana pembangunan, memerlukan suatu penetapan kebijakan agar tidak tumbuhnya katalisator usaha yang menguasai pasar perumahan, batasan penghasilan konsumen, serta besaran bunga yang diharapkan lebih kecil dari suku bunga pasar untuk setiap tahun. Adapun inovasi pembiayaan perumahan ini memerlukan kerja sama yang mampu membangun visi utama dalam memenuhi kebutuhan hunian bukan hanya bagi kaum millenial, tapi bagi semua lapisan kelompok masyarakat.

Oleh karena itu, diperlukan kemampuan suatu lembaga sebagai penyedia perumahan yang dapat mengembangkan sistem KPR dengan skema yang praktis, terpercaya, dan memudahkan persyaratan bagi konsumen untuk membeli rumah dengan rincian lokasi yang jelas, kriteria minat/hobi yang disediakan, harga, jumlah cicilan dan lamanya waktu pembayaran, luas hunian, jumlah lantai dan ruangan, kapasitas hunian, konsep desain, rute penyedia transportasi dan akses (seperti ke pasar, mall, sekolah, dll). Apabila konsumen sewaktu-waktu merasa bosan, karena kondisi pendapatan/ekonomi semakin meningkat, maka konsumen dapat membeli kepemilikan suatu unit hunian yang disesuaikan dengan syarat lembaga terkait.

Hasil riset Dirjen Penyediaan Perumahan Kemen PUPR menyatakan bahwa generasi millenial mengutamakan hunian berkualitas, seperti apartemen atau hunian Sewa yang letaknya berada di pusat kota, terintegrasi dengan simpul transportasi umum, dan memiliki akses internet. Maka, sebagai pekerja muda yang mempunyai ragam kebutuhan hunian dan kemampuan ekonomi berbeda-beda, yang dapat kita lakukan ialah dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hunian yang diharapkan atau justru menjadi salah satu bagian dari penyedia kebutuhan perumahan kaum millenial yang ramah terhadap teknologi.

Generasi millenial, No life No Gadget, and Home is the best place ever  (FRA/KP).

 

Sumber : web pu.go,id, web dirjen pembiayaan infrastruktur kemen PUPR, kompas.com, idntimes.com