Transportasi udara sudah menjadi pilihan masyarakat untuk melakukan perjalanan. Efisiensi waktu menjadi alasan masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi udara. Perkembangan bandara semakin pesat, memunculkan konsep kota bandara (airport city) yang merupakan awal terbentuknya konsep aerotropolis. Kota bandara terbentuk karena banyaknya kegiatan usaha atau jasa komersial di sekitar kawasan bandara.

Aerotropolis mulai dikembangkan di Eropa dan Amerika Serikat tahun 1990-an. Konsep pengembangan kawasan sekitar bandara dengan konsep aerotropolis semakin banyak diimplementasikan di lokasi pengembangan bandara dunia. Saat ini, banyak negara sudah berhasil merapkannya. Diantaranya, Amsterdam Airport Schipol di Belanda, Piedmot Triad Internasional Airport di Amerika Serikat, Incheon International Airport di Kota New Songdo Korea Selatan, Shenzen China, dan Dubai Airport di Dubai. Beberapa bandara tersebut mampu mengintegrasikan kota, bandara, dan kawasan bisnis sehingga menjadi percontohan dalam menerapkan konsep aerotropolis yang atraktif, fungsional dan berkelanjutan.

Terdapat 84 bandara yang tersebar di Amerika, Eropa, Asia Pasifik, Timur Tengah hingga Afrika dijadikan sebagai pusat pengembangan aerotropolis dan aerocity (aerotropolis.com, 2013). Dari tahun ke tahun, angka ini terus bertambah khususnya di negara-negara berkembang.

Di Belanda, konsep aerotropolis dikembangkan didekat bandara Schiphol Amsterdam yang membentuk distrik bisnis Zuidas. Berbagai macam perusahaan skala global berkantor di distrik Zuidas. Hal ini menarik munculnya tempat-tempat hiburan, café, mall, dan restoran. Sehingga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Selain itu, wilayah ini juga menyediakan kawasan hunian pegawai perusahaan yang bekerja di distrik Zuidas.

Keberhasilan dalam penerapan konsep aerotropolis ini membuat pemerintah Indonesia tertarik untuk mengembangkannya. Di Indonesia, aerotropolis diterapkan dibeberapa lokasi bandara baik yang sudah beroperasi maupun bandara baru yang sedang dibangun. Diantaranya, Yogyakarta Internasional Airport di Kabupaten Kulon Progo, Kualanamu International Airport di Deli di Sumatera Utara, Soekarno-Hatta Internasional Airport di Banten, dan Sepinggan Internasional Airport di Balikpapan.

Pengembangan konsep aerotropolis di Indonesia diadopsi dalam pengembangan wilayah. Pengembangan gaya aerotropolis ini disebut sebagai “mesin ekonomi” yang membangkitkan pertumbuhan wilayah yang dapat menimbulkan spreed effect bagi wilayah sekitarnya. Dengan diterapkannya konsep ini, masyarakat lokal maupun pengunjung dapat dengan mudah mengakses semua kebutuhan karena sarana dan prasarana terkonsentrasi dalam satu lokasi dan terintegrasi. Selain itu, efek sebaran ekonomi dari pengembangan aerotropolis diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahtaraan masyarakat yang tinggal di kawasan aerotropolis tersebut.

Pembangunan dengan konsep aerotropolis yang memberikan dampak positif bagi perkembangan wilayah tidak serta merta dapat diimplementasikan di suatu wilayah. Akan tetapi terdapat berbagai aspek lain yang perlu dipertimbangkan. Hal ini lah yang menimbulkan berbagai kontra di masyarakat terkait pengembangan kota berbasis bandara ini. Terdapat artikel yang meluncurkan Gerakan Global Anti Aerotropolis (GGAA). Gerakan ini menilai bahwa pengembangan aerotropolis hanya akan memberikan dampak pertumbuhan ekonomi yang hanya akan dirasakan oleh perusahaan besar. Sedangkan perusahaan kecil dan menengah akan terpinggirkan. Hal ini karena perkembangannya lebih mengarah pada pertumbuhan dan keuntungan perusahaan-perusahaan besar seperti produsen pesawat, penerbangan, konstruksi, pariwisata internasional, hotel, ritel global, dan lain-lain.

Selain itu, konsep aerotropolis juga dianggap sebagai mega proyek yang merusak. Salah satu negara yang menerapkan konsep aerotropolis adalah Istanbul. Dalam proyek pembangunan bandara berkonsep aerotropolis telah menghancurkan hutan dan pantai utara kota yang digunakan untuk pembangunan jembatan di atas Bosphorus, jalan raya dan kanal yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Marmara dengan luas 53.000 m2.

Kehilangan lahan pertanian, hutan dan habitat satwa liar menjadikan GGAA menolak akan pengembangan bandara dengan konsep aerotropolis. Pembangunan besar-besaran di atas lahan besar di daerah pertanian mengakibatkan penggusuran masyarakat pedesaan, hilangnya tanah subur dan produksi pangan dan mengikis kedaulatan pangan di wilayah yang lebih luas. Konstruksi mengancam kerugian besar keanekaragaman hayati dan deforestasi. Proyek Aerotropolis juga meningkatkan kerusakan lingkungan lokal yang ditimpakan pada masyarakat dan lingkungan sekitar bandara, kebisingan dan kerusakan kesehatan akibat polutan yang dipancarkan oleh pesawat hingga tambahan polusi udara dari tingginya lalu-lintas jalan.

Berdasarkan dualisme pandangan di atas, seharunya pengembangan aerotropolis tidak hanya menjadi pilihan pengembangan kawasan yang dipilih berdasarkan trend semata. Akan tetapi benar-benar harus mempertimbangkan dampak positif dan negatif yang akan diterima baik pada masyarakat maupun lingkungan. Konsep ini juga tidak serta merta dapat diadopsi, akan tetapi perlu mempertimbangkan aspek-aspek kearifan lokal pada wilayah. Sehingga apabila konsep ini dipilih sebagai konsep pengembangan suatu kota, aspek–aspek keberlanjutan meliputi masyarakat, ekonomi, dan lingkungannya tetap dapat terjaga.

 

The progress of the state is not only seen from physical development, the most important thing is how to make the community prosperous and empowered(IPI/KP).

 

 

Sumber: aerotropolis com; beritabumi.or.id; kompas.com