Mahasiswa-mahasiswi UGM dan UQ (The University of Queensland) melakukan presentasi akhir terkait masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat perdesaan dan perkotaan di Yogyakarta pada hari kamis 11 juli 2019. Pemaparan hasil kegiatan ini berlangsung di Masjid Al Hijrah, Gang Sadewa, Sorowajan, Kota D.I Yogyakarta. Kegiatan ini juga mengundang beberapa komunitas dan LSM, seperti Lingkar, ArkomJogja, Kalijawi, Habitat for Humanity Yogyakarta, dan HRC Caritra. Sebelumnya, mereka sudah melakukan studi selama kurang lebih 2 minggu di beberapa lokasi. Diantaranya adalah :

  1. Kampung Timoho , Kelurahan Muja-Muju, Kecamatan Umbulharjo, Kota D.I Yogyakarta
  2. Kampung Gendheng, Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota D.I Yogyakarta
  3. Dusun Sengon Kerep, Desa Sampang, Kabupaten Gunung Kidul, Kota D.I Yogyakarta
  4. Desa Mongkrong, Kabupaten Gunung Kidul, Kota D.I Yogyakarta
  5. Dusun Kanyen, Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Kota D.I Yogyakarta
  6. Desa Sorowajan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Kota D.I Yogyakarta

Berdasarkan hasil survei, pendekatan, dan diskusi dengan kelompok masyarakat dilakukan selama kurang lebih 3-4 hari di masing-masing lokasi studi. Penemuan masalah yang dihadapai oleh masyarakat perdesaan merupakan masalah yang semestinya perlu untuk diselesaikan. Kebanyakan permasalahan yang masih dihadapi oleh masyarakat di perdesaan, antara lain hak dan keamanan bermukim, kepemilikan lahan, kerentanan terhadap kekeringan, tanah longsor, kurangnya sumber daya air, hingga masalah persampahan.

Sebagai contoh, masalah yang sudah  dihadapi oleh masyarakat Desa Sorowajan, Kota Yogyakarta, yaitu keamanan bermukim dan masalah persampahan. Metode pengumpulan data yang  dilakukan mulai dari pendataan jumlah rumah, jumlah KK, Focus Group Discussion (FGD), survei menyusuri keliling desa, hingga face to face diskusi dengan kelompok masyarakat. Penemuan masalah yang dihadapi masyarakat berdasarkan pengurutan secara individu dan bersama-sama.

Melalui tahapan pengumpulan data, mereka kemudian menentukan masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang dianalisis menggunakan Microsoft Excel, kemudian membuat mapping, invariant variable, dan menentukan penyebab serta dampak bagi masyarakat. Secara umum, metode yang dilakukan terdiri dari 5 tahapan, yaitu analisa sistem, diskusi dengan kelompok masyarakat, sejarah lisan, analisis kesenjangan, dan informasi utama. Dari hasil analisis yang ditemukan di lokasi studi kebanyakan menunjukkan bahwa ikatan antar masyarakat sangat erat dan memiliki kohesi sosial yang tinggi. Sehingga, dalam menghadapi hingga menyelesaikan masalah tersebut, masyarakat dapat menyesuiakan dengan kondisi lingkungannya maupun program yang diberikan oleh pemerintah, komunitas, hingga non-government organization (NGO).

Kendala anggaran, pendidikan, hingga infrastruktur membuat masyarakat memiliki cara masing-masing untuk menghadapi kondisi yang sudah ada. Dengan studi yang sudah dilakukan yang menghasilkan kesimpulan dan saran, pengamatan terhadap masalah yang masyarakat hadapi ini harusnya menjadi tanggung jawab bersama untuk menciptakan kehidupan yang layak bagi semua kelompok lapisan masyarakat. Oleh karena itu, terdapat beberapa hasil kesimpulan dan saran dari masing-masing permasalahan yang masih dihadapi oleh masyarakat, antara lain :

  • Dalam masalah kerentanan terhadap minimnya sumber daya air bersih, kekeringan, dan longsor, maka dari aspek infrastruktur perlunya penyediaan air bersih yang memanfaatkan teknologi tepat guna sesuai kebutuhan dan kapasitas masyarakat, menggunakan metode alternatif dalam penyimpanan air, mengurangi penebangan pohon, menanam tanaman/komoditas tani yang sesuai dengan musimnya, tidak membangun rumah di area yang rawan longsor
  • Dalam hak dan keamanan bermukim, pemerintah perlu memberikan kepastian hukum atas kepemilikan lahan agar tidak timbulnya masalah lain dikemudian hari.
  • Dalam menghadapi permasalahan persampahan, masyarakat juga perlu memahami tentang pengelolaan sampah, seperti pendidikan sejak dini untuk menerapkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle),  serta menyediakan lahan untuk pengelolaan sampah.

 

 

 

 

 

(FRA/KP)