Pada tahun 2045 trend jumlah penduduk Indonesia semakin terkonsentrasi di perkotaan dengan presentase angka 63,1% dari jumlah populasi penduduk (BAPPENAS, 2018). Kepadatan ini akan berdampak pada kawasan permukiman yang akan semakin padat di perkotaan dan menimbulkan lingkungan yang tidak layak huni terutama untuk keberlangsungan lingkungan untuk anak-anak yang tinggal di kawasan tersebut. Begitu juga di Kota Yogyakarta sebagai kota besar di Indonesia yang memiliki kawasan permukiman padat penduduk dan memiliki presentase jumlah anak yang relatif banyak sekitar 20% dari usia 1 sampai 14 tahun (BPS Kota Yogyakarta, 2018). Pemenuhan fasilitas anak semakin dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan hak anak untuk hidup disuatu kota khususnya dipermukiman padat penghuni. Tidak bisa dipungkiri kota-kota besar di Indonesia menjadi tempat tinggal orang-orang yang melakukan urbanisasi sehingga menimbulkan dampak kepadatan permukiman di kawasan perkotaan.

Dalam pemenuhan hak-hak untuk anak, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pada awal tahun 2016 mengusulkan pembangunan Kota Layak Anak (KLA) di seluruh wilayah Indonesia. Pengembangan menuju pembangunan Kota Layak Anak ini direspon positif oleh semua daerah di Indonesia. Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota yang sudah menetapkan kebijakan pembangunan Kota Layak Anak. Hal ini diatur dalam Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2016 tentang Kota Layak Anak. Tujuan dari penetapan peraturan daerah tersebut untuk menjamin terpenuhinya hak anak yang tinggal di Kota Yogyakarta. Hak anak tersebut diantaranya hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya, dan perlindungan khusus. Penerapan pengembangan Kota Layak Anak di Kota Yogyakarta diwujudkan melalui Program Kampung Ramah Anak (KRA).

Untuk saat ini, sampai tahun 2019, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Yogyakarta telah membentuk Kampung Ramah Anak sejumlah 180 KRA di Kota Yogyakarta yang bertujuan mencapai misi terciptanya Kota Layak Anak. Apakah program Kampung Ramah Anak sudah optimal di Kota Yogyakarta? Terutama pada kawasan permukiman padat penghuni yang berada di bantaran Sungai Code?

Menurut Eko, nama akrab dari Eko Febri Suryanto mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), sejumlah warga di Tegalpanggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta yang ditemui mengatakan belum mengetahui tentang program Kampung Ramah Anak. Hal ini ditengarai minimnya sosialisasi dari pemerintah tentang program tersebut khususnya di Kelurahan Tegalpanggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta. Internship Caritra batch 69 ini menemukan fakta lapangan bahwa Kelurahan Tegalpanggung merupakan bagian kecil dari belum optimalnya program Kampung Ramah Anak di Kota Yogyakarta.

Akan tetapi, bantuan dari pemerintah untuk fasilitas sekolah dan kesehatan untuk anak-anak yang tinggal di Kelurahan Tegalpanggung sudah mencukupi. Perlu waktu bagi pemerintah kota untuk menjadikan kampung-kampung di Kota Yogyakarta sebagai kampung ramah anak. Perlu adanya kolaborasi pemerintah dengan swasta dalam menyediakan pemenuhan fasilitas untuk anak-anak dan membentuk kelembagaan berbasis partisipasi masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang ramah untuk anak, sehingga akan tercipta Kota Yogyakarta sebagai Kota Layak Anak.

 

 

 

 

 

 

#KLA
#UrbanJurnalism
#InternshipBatch69
#Caritra