Pujiono Centre merupakan platform untuk akuisisi, berbagi, dan menyebarluaskan pengetahuan tentang bencana dan perubahan iklim untuk mendukung kebijakan, membuat manajemen bencana dan adaptasi perubahan iklim. Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh Pujiono Centre adalah Diskusi Bulanan. Kali ini, Pujiono Centre menyelenggaran kegiatan diskusi dengan tema yang dibahas yaitu pemanfaatan SIG terhadap pelaksanaan program Desa Tangguh Bencana.

Kegiatan diskusi ini dilaksanakan di Karanglo RT 003 RW 032, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta tanggal 31 Juli 2019 yang dimulai pukul 14.00 wib sampai dengan selesai serta dihadiri oleh beberapa OPD terkait, komunitas, hingga lembaga lainnya, diantaranya adalah Tagana, Lingkar, BPBD Purworejo, BPBD Bantul, Geografi UGM, HRC Caritra, dan Balai Diklat Kemensos Yogyakarta. Diskusi ini dipaparkan oleh pemateri, yaitu Yudho Indardjo, S.Si (ahli sistem informasi geografis/pemetaan bencana).

GIS atau Geographic Information Centre atau dikenal dengan Sistem Informasi Geografis merupakan sistem informasi (berbasis digital) yang digunakan pada data/informasi yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Basis digital yang memiliki referensi geografis (koordinat) dan spasial (georeference) merupakan informasi spasial yang bisa digunakan oleh siapapun. Sistem informasi geografis ini merupakan cabang dari sistem infomasi digital yang kemudian secara spesifik memiliki informasi dengan referensi koordinat yang standar.

Dulu sistem informasi geografis ada yang manual (tidak berhubungan dengan komputer), namun sekarang sudah berkembang dengan pemanfaatan teknologi dan informasi yang ada. Sebagai contoh, dalam GIS ada teknik overlay yang mencakup beberapa informasi yang ditumpuk jadi 1 seolah-olah apa dilihat dari atas, kita melihat informasi apa yang baru dibangun. Contoh, overlay simpangan dengan jalan, menggambar jalur jalan dan sungai untuk merencanakan jembatan.

Suatu ciri khas GIS memiliki dinamika yang berupa input, proses, dan output. Geografis ini ciri yang paling menonjol menunjukkan informasi berupa peta, jalan, jarak. Dalam penggunaannya, hal ini memerlukan media untuk bekerja. Pemanfaatan GIS untuk Bencana alam seperti memantau luas wilayah bencana alam, pencegahan terjadinya bencana alam pada masa datang, menyusun rencana-rencana pembangunan kembali daerah bencana, penentuan tingkat bahaya erosi, prediksi ketinggian banjir, prediksi tingkat kekeringan, dan sebagainya.

Adanya GIS ini dapat mendukung suatu kondisi dari berbagai wilayah untuk menilai suatu resiko bencana, menilai bahaya/jenis bencana, menilai kerentanan, dan menilai kapasitas yang dapat dilakukan. Dengan adanya GIS, maka dalam pemanfatannya dapat dilakukan untuk pelaksanaan program DESTANA (Desa Tangguh Bencana). Program DESTANA ini merupakan pengimplementasian dari adanya Perka BNPB No 1/2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana dengan tujuan, yaitu :

  • Memberikan panduan bagi pemerintah dan/atau pemerintah daerah dalam mengembangkan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana sebagai bagian dari upaya untuk melaksanakan pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat
  • Memberikan acuan bagi pelaksanaan pengembangan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana bagi aparatur pelaksana dan pemangku kepentingan PRB

Kegiatan Desa Tangguh Bencana meliputi :

  1. Pengkajian Risiko Desa/Kelurahan
    – Menilai ancaman
    – Menilai kerentanan
    – Menilai kapasitas
    – Menganalisis risiko bencana
  2. Perencanaan PB dan Perencanaan Kontijensi
    – Rencana kontijensi dan Rencana PB
  3. Pembentukan forum PRB
  4. Peningkatan kapasitas warga dan aparat dalam PB
  5. Pemaduan PRB ke dalam Rencana Pembangunan Desa dan Legalisas
  6. Pelaksanaan PRB
  7. Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan Program

Pemanfaatan GIS ini pada pelaksanaan program Destana, salah satunya sudah dilakukan di Destana Ponorogo, Jawa Timur. Destana Ponorogo memanfaatkan aplikasi android untuk mitigasi dan tanggap darurat bencana berupa pemetaan kerawanan longsor setiap desa yang ada di Ponorogo, daftar titik longsor selama satu tahun terakhir, tempat evakuasi ketika terjadi longsor dan saran mitigasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ponorogo. Berikut contoh pemanfaatannya :