Saat ini kita sedang mengalami musim kemarau. Bencana alam belakangan terjadi di beberapa lokasi di negara kita ini sebagai dampak kemarau yang semakin panjang. Bencana akibat kemarau mulai dirasakan masyarakat seperti bencana kebakaran dan kekeringan. Sebagai contoh adalah sumur-sumur masyarakat yang mulai mengering. Jumlah air yang dihasilkan tidak lagi sebanyak waktu-waktu sebelumnya.

Musim kemarau yang terjadi sangat berdampak besar bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat yang hidup di daerah Kars seperti di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Morfologi wilayah yang memiliki jenis tanah berbatu membuat air tidak dapat tertampung didalam tanah.
Seperti karakteristik wilayah kars pada umumnya yang memiliki aliran sungai yang sering putus dan menghilang kedalam tanah, dan banyaknya goa-goa dibawah tanah, hal ini pun tampak di Kabupaten Gunung Kidul. Masyarakat sering kali mengalami kekurangan air pada saat kemarau tiba.

Dari waktu ke waktu upaya mengatasi kekeringan akibat kemarau terus dilakukan. Masyarakat menyadari bahwa, wilayah Kabupaten Gunung Kidul memiliki banyak gua bawah tanah. Hal ini dapat diketahui karena nampaknya lubang-lubang gua pada permukaan. Bersama pihak-pihak akademisi dalam hal ini Mahasiswa Pecinta Alam dan masyarakat mencoba mengeksplorasi gua-gua yang ada untuk dapat mengetahui apakah terdapat aliran air pada sungai bawah tanah. Dari beberapa penelusuran goa di Gunung Kidul ternyata memiliki aliran sungai bawah tanah yang dapat dimanfaatkan. Aliran-aliran sungai ini pun tetap mengalir deras pada penghujung musim kemarau.

Seperti yang dilakukan di Goa Pulejajar, Kelurahan Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul. Masyarakat memanfaatkan potensi aliran air dari sungai bawah tanah di dalam Goa Pulejajar menggunakan sistem pengangkatan air bawah tanah untuk masyarakat. Air dialirkan sepanjang 5,2 Km dari goa menuju lokasi perkampungan masyarakat. Aliran air yang mencapai debit 4 liter/ detik saat ini telah menjadi titik terang masalah kebutuhan air masyarakat disekitar goa dengan jumlah kurang lebih 1500 KK.

Pengangkatan air dari dalam goa yang dilakukan masyarakat ini adalah salah satu bentuk kemandirian masyarakat dalam membangun kehidupan dan wilayahnya. Kabupaten Gunung Kidul yang terdapat area kars memiliki banyak gua-gua bawah tanah. Potensi seperti aliran sungai bawah tanah adalah salah satu alternatif solusi masalah kekurangan air bagi masyarakat yang membangun kehidupan di sekitarnya. Potensi seperti ini dapat dimanfaatkan secara maksimal dengan tetap memperhatikan nilai-nilai kelestarian area kars. Pemanfaatan secara bertanggung jawab sangatlah penting.

Yang dapat dilakukan dengan adanya potensi ini adalah perlunya eksplorasi terhadap potensi air yang ada, penelitian lebih lanjut terhadap hasil yang didapat, dan membuat perencanaan sesuai potensi dan kebutuhan, serta implementasi perencanaan secara bertanggungjawab demi keberlanjutan lingkungan.

Dengan memanfaatkan air dari aliran sungai bawah tanah maka masyarakat pada wilayah-wilayah kars tidak akan mengalami kekurangan air selama sumber air yang ada tetap mengalir dijaga kelestariannya. (APB/KP-HRC)

Foto: Goa Pulejajar, Kelurahan Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul (DIY)