Takukah kamu? 80 juta orang atau 30% dari jumlah total penduduk Indonesia adalah kelompok milenial. Kelompok milenial adalah kelompok yang dikenal sebagai generasi yang terlahir sekitar akhir tahun ‘80 dan ‘90, dikhawatirkan sedang dan akan mengalami kesulitan dalam memperoleh rumah milik. Hal ini disebabkan jumlah generasi milenial yang terus bertambah akan diiringi dengan kebutuhan terhadap rumah layak huni dan berkualitas juga terus bertambah tetapi dengan harga terjangkau. Permasalahan yang dihadapi generasi milenial adalah harga rumah yang terus mengalami kenaikan dan mempengaruhi daya jangkau kaum milenial saat ini.

Hari Selasa tanggal 3 Desember 2019 berlangsung sebuah diskusi menarik mengenai hasil penelitian terkait preferensi atau prioritas pandangan generasi milenial terhadap hunian –termasuk didalamnya adalah aspek permintaan hunian dan kemampuan finansial di seluruh provinsi di Pulau Jawa. Acara yang bertempat di Gedung Perpustakaan UGM ini merupakan sebuah diseminasi hasil riset yang telah dilakukan Shirvano Consulting. Riset yang dilakukan menggunakan metode kuantitatif dan melibatkan responden sebanyak 1500 orang. Survei tersebar di seluruh Jawa mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, DIY, dan Banten.

Diseminasi riset ini dihadiri para mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Yogyakarta. Hadir juga Arkom Jogja dan HRC Caritra yang memberikan materi, pengalamannya serta tanggapan dari pemaparan Shirvano Consulting tentang hasil dan simpulan yang didapat dalam pelaksanaan riset kepada publik, terkait preferensi dan tantangan kepemilikan hunian untuk generasi milenial, terutama yang berhubungan dengan isu keterjangkauan hunian.

Menarik memang hasil survei yang dilakukan teman-teman Shirvano khusunya yang dilakukan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terkait keinginan generasi milineal untuk memiliki rumah. Dari survei yang dilakukan, ditemukan lebih dari 50% responden memilih Kabupaten Sleman, DIY sebagai lokasi bertempat tinggal yang nyaman, dengan tipe rumah yg diminati adalah seluas 72 meter persegi. Serta ditemukan, hanya sejumlah 4% generasi milenial yang memilih bertempat tinggal di hunian vertikal. Dari sini, maka bisa disimpulkan hampir semua generasi milenial memilih hunian dengan model rumah tapak dan bersertifikat hak milik.

Alternatif lain dari model hunian yang tidak hanya berbentuk rumah tapak disampaikan oleh Arkom Jogja, yaitu co-housing dan rumah gotong royong dengan memanfaatkan hak pakai di tanah sultan ground yang menjadi bentuk keistimewaan bagi masyarakat yang bertempat tinggal di DIY.

Dilihat dari sisi regulasi, pemerintah Kabupaten Sleman sebagai mana disampaikan narasumber dari HRC Caritra, bahwa mahalnya lahan dan fungsi sebagian besar wilayah sebagai daerah resapan, menyebabkan Kabupaten Sleman diarahkan untuk perumahan tipe mewah dan hunian vertikal. Alternatif pembiayaan perumahan bagi kaum milineal yang identik dengan pekerja kreatif menggunakan model virtual sebagai sarana untuk mencari uang, mulai di akomodasi pemerintah maupun perbankan.

Ironisnya, menurut Financial Planner dari Rayhn Wealth Advisory apa yg diinginkan oleh generasi milineal merupakan beberapa hal yg masih harus menjadi pekerjaan rumah cukup besar bagi kita semua. Generasi milineal membelanjakan hampir sebagian besar pendapatannya untuk keperluan konsumsi dan asuransi kesehatan, dari hasil survei tidak sampai 2% yg sudah berpikir utk menabung untuk KPR (Kredit Kepemilikan Rumah).