Perubahan iklim sudah terbukti nyata terjadi di dunia. Perubahannya ditandai dengan fenomena peningkatan suhu global, perubahan pola curah hujan, peningkatan kejadian cuaca ekstrem, permukaan air laut yang semakin meningkat dan mencairnya lapisan es di kutub (Stone, 2010). Bagi area perkotaan yang minim daerah tangkapan dan resapan air, perubahan pola curah hujan perlu mendapat perhatian khusus. Cuaca ekstrim yang semakin sering terjadi menuntut kota mampu mengatur manajemen limpasan air hujan secara efisien.

Gambar Genangan di Jalan Akibat Hujan Deras

Dampak dari fenomena ini juga dirasakan di Kota Yogyakarta. Intensitas hujan yang semakin tinggi, bersamaan dengan berkurangnya area resapan air akibat pertumbuhan kota menjadi penyebab munculnya permasalahan genangan air hujan. Menurut Dinas PUPR Kota Yogyakarta, pada tahun 2019 terdapat sekitar 16 titik area genagan di Kota Yogyakarta sebagai dampak dari tidak mampunya sistem drainase kota dalam menampung limpasan air hujan yang meningkat. Pendekatan pengelolaan limpasan air hujan saat ini lebih berorientasi pada kelancaran aliran air ke sungai. Apabila pendekatan tersebut terus dilanjutkan, maka bisa diasumsikan bahwa sistem drainase Kota Yogyakarta sudah tidak mampu menampung limpasan air hujan seiring dengan meningkatnya intensitas hujan akibat perubahan iklim serta berkurangnya area resapan air. Berdasarkan hal itu maka dipelukan strategi alternatif untuk menanggulangi permasalahan ini.

Salah satu solusi mengatasi masalah limpasan air hujan adalah dengan mengubah pendekatan “mengalirkan” air limpasan menjadi “menahan” air semaksimal mungkin dan memanfaatkannya yaitu dengan Pemanenan air hujan (PAH). Kota Yogyakarta sendiri sudah memiliki beberapa wilayah yang menerapkan PAH. Salah satunya adalah Kampung Code yang terletak di Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Gondokusuman. PAH di Kampung Code dikembangkan sejak tahun 2009 dan dikelola swadaya oleh masyarakat. Bambang, pengelola PAH Kampung Code mengatakan bahwa “PAH memiliki potensi untuk menangani limpasan air hujan di Kota Yogyakarta, selain itu PAH juga bermanfaat untuk meningkatkan akses air bersih penduduk. Terdapat 3 (tiga) lokasi penampungan terpisah pada 3 (tiga) rumah yang atapnya digunakan sebagai area tangkapan air hujan, kapasitas total PAH Kampung Code adalah 5.000 liter”. Angka tersebut tergolong cukup besar dan memiliki potensi secara ekonomi apabila melihat standar kebutuhan harian air per orang adalah 144 liter/hari. “Namun penggunaan air hujan di Kampung Code masih terbatas pada kebutuhan non-konsumsi guna menjaga kualitas kesehatan masyarakat” tambah Bambang.

Bambang mengatakan bahwa setiap terjadi hujan intensitas tinggi, penampungan yang telah disediakan bisa terisi penuh. Biaya pemasangan PAH berkisar antara 2 hingga 3 juta rupiah per instalasi, tergantung dengan besaran penampungan yang diinginkan. Untuk perawatan pun tergolong mudah. “Jika untuk perawatan, itu paling cuma bersihkan filternya,” ujar Bambang.

Memang pada umumnya PAH disediakan pada area krisis air sebagai cadangan air. Padahal penggunaan PAH secara masif dalam sistem perkotaan dapat digunakan sebagai alat untuk mengurangi limpasan air hujan terutama di area perkotaan, sebagai pengganti area resapan air yang tentu lebih sulit untuk disediakan.

Pengadaan PAH secara masif di area perkotaan dapat membantu menyelesaikan permasalahan genangan air hujan. PAH diharapkan dapat meningkatkan penampungan air hujan dan mengurangi debit limpasan air. Hal ini dapat dijadikan alternatif solusi selain pembangunan atau peningkatan kapasitas drainase yang ada. Penampungan air hujan yang diadakan melalui PAH juga dapat menggantikan fungsi lahan resapan air yang semakin berkurang.

Selain itu, pengembangan PAH juga dapat dilakukan secara swadaya sehingga dapat mengurangi beban anggaran daerah, pemerintah hanya perlu memberikan insentif untuk masyarakat guna meningkatkan daya tarik program. PAH juga dapat dijadikan solusi untuk mengurangi ketergantungan kota pada sumber air tanah yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi kota. Lebih lanjut, dapat berpengaruh juga pada bidang ekonomi sebagai upaya penghematan pengeluaran dari sektor kebutuhan air harian. (BLJ/MG)