Masterplandesa.com Pertumbuhan kasus Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus meningkat hingga melonjak 10 kali lipat. Data per 16 April 2020 menunjukkan terdapat kasus 63 pasien positif Covid-19 dan kasus meninggal dunia sebanyak 6 orang. Upaya Pemerintah Daerah D.I. Yogyakarta untuk menanggulangi Covid-19 adalah dengan peningkatan kapasitas pemeriksaan pada fasilitas kesehatan hingga upaya pembatasan jarak sosial dengan  pemberlakuan study from home (SFH) bagi siswa, work from home (WFH) bagi pekerja, dan meniadakan acara yang mengumpulkan banyak orang.

Kegiatan belajar di sekolah yang menjadi salah satu rutinitas anak-anak sementara terhenti karena pemberlakuan pembatasan jarak sosial. Pemerintah jogja sudah hampir satu bulan menerapkan kegiatan Study from Home (SFH) atau belajar dari rumah. Kini siswa sekolah harus menyesuaikan diri dengan cara belajar baru atau sistem pembelajaran daring . Meski begitu, semangat belajar anak-anak tidak berkurang, bahkan berbagai metode belajar dari rumah justru semakin berkembang dengan adanya program Study from Home (SFH).

Perpustakaan JayaRI Serut, Palbapang, Bantul

Perpustakaan JayaRI Serut, Palbapang, Bantul

Di Dusun Serut, sebuah dusun kecil di Kelurahan Palbapang, Bantul, dampak Covid-19 juga terasa. Ramai riuh anak-anak yang biasa terlihat di PAUD Edelwys juga sudah tidak terlihat dalam beberapa minggu ini. Anak-anak PAUD Edelwys kini belajar dari rumah. PAUD Edelwys punya cara kreatif dalam menerapkan Study from Home (SFH). Lalu bagaimana metode yang coba dikembangkan oleh guru-guru dan Kepala Dusun Serut?

  1. Kunjungan setiap Sabtu ke rumah murid dan oleh-oleh sebagai media edukasi Covid-19

Banyak anak-anak yang ingin berangkat sekolah lagi dan rindu dengan kegiatan belajar bersama guru. Untuk mengobati rasa rindu mereka, guru PAUD mengunjungi rumah murid-murid PAUD setiap hari Sabtu, dengan tetap menjaga jarak aman. Ketika mengunjungi murid-murid PAUD, sang guru membawakan oleh-oleh yang berbeda setiap minggunya. Oleh-oleh yang dibawakan untuk murid-murid sekaligus menjadi bahan edukasi dalam menangani Covid-19, seperti hand sanitizer, sabun tangan, hingga masker. Ketika  mengunjungi muridnya, guru menjelaskan bagaimana oleh-oleh yang ia bawa dapat membantu muridnya dalam mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Pembagian bahan belajar di rumah

Murid-murid PAUD Edelwys rutin mendapatkan bahan belajar untuk dikerjakan di rumah, dari peralatan menulis hingga menggambar. Bahan-bahan belajar di rumah tersebut dibagikan secara gratis oleh PAUD dengan bantuan dana dari kas dusun, Desa Palbapang, hingga sumbangan dana dari perorangan.

  1. Perpustakaan online

Selain penerapan Study from Home (SFH) untuk anak-anak atau murid PAUD, Kepala Dusun Serut kini sedang mengupayakan perpustakaan online yang dapat diakses oleh seluruh warga Dusun Serut, tidak hanya terbatas untuk anak-anak saja. Perpustakaan online ini merupakan kerjasama Dusun Serut dengan purna pustakawan UGM yang kini aktif di UMY. Hingga kini sistem penggunaan perpustakaan online masih dalam tahap diskusi akhir. Rencananya, perpustakaan online akan segera dirilis, terutama untuk menunjang kegiatan pendidikan anak-anak dan warga Dusun Serut secara daring.

Selain sigap dalam menunjang aktivitas belajar anak-anak PAUD, Dusun Serut juga sigap dalam menyiapkan beberapa protokol kesehatan, seperti penyediaan detektor getar di pintu masuk sebelah timur dan barat dusun. Detektor getar secara otomatis akan menyemprot desinfektan kepada warga yang masuk melewati pintu dusun. Selain itu, berbagai bantuan desinfektan dari Desa Palbapang, PKU Bantul, hingga bantuan perorangan disalurkan melalui program penyemprotan rutin setiap hari Sabtu ke rumah-rumah warga. Pak Tobadiyana selaku Kepala Dusun Serut juga sudah menyalurkan beberapa bantuan sembako untuk warga yang terdampak secara ekonomi. “Ada beberapa KK yang mendapatkan bantuan dari Polres Bantul. Saya juga sedang mengajukan daftar nama lansia calon penerima bantuan ke Dinas Sosial. Semoga dapat segera diproses”.

Untuk koordinasi, setiap RT di daerah Dusun Serut dan sekitarnya kini membuat grup WA. “Kami sekarang pakai WA aja. Setiap RT punya grup WA yang aktif untuk saling memberi kabar tentang kondisi warga, semua saling update. Misalnya pemberitahuan ada warga pendatang, mereka mengabarkan di WA, kita arahkan ke puskesmas, lalu diisolasi oleh keluarganya. Kami saling berkabar di WA saja untuk koordinasi.”

Dusun Serut juga sudah menyiapkan stok beras hingga tiga bulan ke depan. Selain itu, benih-benih sayuran baru saja disemai dan akan dibagikan ke seluruh warga Dusun Serut. “Untuk ketahanan pangan sudah disiapkan. Kami baru saja panen gabah, insya Allah cukup untuk 3 bulan ke depan. Saya juga baru saja menyemai benih-benih sayuran yang akan dibagikan ke seluruh warga,” ujar Pak Tobadiyana.

Meski kini semua lebih terbatas secara mobilitas, Dusun Serut terus berupaya untuk berkembang dalam keterbatasan. Meski perekonomian di desa menjadi sedikit lesu, acara guyub warga menghilang, hingga kegiatan perpustakaan di PAUD Edelwys yang berkurang, Dusun Serut tetap mencari cara untuk tetap tangguh dan mencari cara dalam menghidupkan aktivitas di rumah mereka. Seperti kata pepatah, lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Lebih baik mencari jalan untuk tetap tangguh daripada mengutuk penyebaran wabah. (MEIP/CARITRA)