Caritra.org – Gempa bumi bermagnitudo 7,4 SR yang memicu terjadinya tsunami dan likuefaksi melanda Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala di Provinsi Sulawesi Tengah, pada 28 September 2018 silam. Kejadian itu mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerugian harta benda serta meninggalkan trauma dan berbagai permasalahan yang perlu diselesaikan hingga saat ini. Total kerugian karena kerusakan yang terjadi mencapai Rp 18,48 triliun (BNPB, 2018).

HRC Caritra berkesempatan untuk sharing pengalaman penanganan pasca bencana alam gempa bumi dan likuefaksi di Sulawesi Tengah. HRC Caritra berperan dalam bebagai hal, salah satunya dengan membangun sekolah. Sekolah yang dibangun HRC Caritra merupakan sekolah pertama yang dibangun pasca bencana di Sulawesi Tengah.

“Dikala pemerintah masih melakukan verifikasi jenis kerusakan dan lain-lain, HRC Caritra sudah bergerak untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana.” kata Dr. Ir. Mahditia Paramita, M.Sc., CEO HRC Caritra dalam Diskusi Online Class Urban Issues dengan tema “The Dynamic of Urban Governance – Study cases Solo – Bandung – Palu”. Hadir juga sebagai pembicara Ir. Ramalis Sobandi, MT, Ph.D (Yayasan Pilar Tunas Nusa Lastari), Noviantari Sudarmadji, ST. (Yayasan Pilar Tunas Nusa Lastari), dan Dr. Eng. Kusumaningdyah N.H., ST, MT. (URDC Labo UNS). Diskusi yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 29 April 2020 diselenggarakan dengan memanfaatkan salah satu aplikasi teleconference dari Google.

Sebagai gambaran, aktivitas sekolah anak – anak yang dilakukan pasca bencana di Sulawesi Tengah dimulai dari pukul 7.00 hingga pukul 10.00 pagi atau hanya 3 jam. Hal ini dikarenakan cuaca pasca bencana yang cukup panas hingga mengganggu berjalannya kegiatan belajar-mengajar. Banyak anak-anak yang terpaksa bersekolah ditenda-tenda, yang didirikan oleh para relawan dan NGO, baik nasional maupun internasional. Karena keterbatasan tenda yang ada, maka ada satu tenda yang menampung seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Sebagai upaya mengatasi hal tersebut maka berbagai cara dilakukan untuk menggalang dana untuk membangun sekolah, diantaranya dengan menggalang dana dari BUMN.

Mengapa di Kota Palu, Sulawesi Tengah terjadi likuefaksi? Kota Palu merupakan kota yang dibawahnya terdapat arus sungai bawah tanah. Arus sungai bawah tanah tersebut jika mendapatkan tekanan yang cukup besar maka air akan keluar dengan membawa lumpur. Bahkan, akan menghisap benda-benda yang ada diatasnya. Hal inilah yang disebut dengan peristiwa likuefaksi.

Tahap penanganan bencana dimulai dengan tanggap darurat, masa transisi dan pemulihan awal, masa rehabilitasi, serta yang terakhir adalah masa rekonstruksi dan relokasi baru. Dalam penanganan bencana hal yang paling menantang adalah penyediaan air bersih untuk para korban bencana. Masalah penyediaan air menjadi lebih sulit karena di Kota Palu terjadi penurunan air tanah yang cukup signifikan sehingga mempengaruhi ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Seperti kejadian di daerah pembangunan hunian sementara (huntara) yang mengalami kesulitan penyediaan air bersih karena penurunan air tanah sangat ekstrim.

Tantangan yang biasa dihadapi dalam penanganan bencana HRC Caritra adalah berupa tantangan menghasilkan desain yang dapat secara cepat dapat diterima oleh para pengambil keputusan. Hal ini merupakan tantangan bagi kami karena penentuan desain adalah langkah krusial yang harus segera diambil untuk memulai penanganan bencana dengan tata kelola yang baik. Jika desain penanganan bencana saja lama, lalu bagaimana dengan implementasi penanganannya?

Namun dari peristiwa bencana yang terjadi kita hendaknya dapat mengambil pelajaran untuk memberikan dampak perubahan positif bagi diri sendiri dan juga masyarakat. “Kesempatan kita merubah peradaban suatu wilayah adalah salah satunya karena bencana. Begitu juga pada masa saat ini dengan adanya bencana wabah Covid-19 yang merupakan kesempatan kita untuk merubah kebiasaan menjadi lebih baik lagi.” Kata Mahditia Paramita dalam Diskusi Online Class Urban Issues. (MBS/CARITRA)

Tangkapan layar Acara Diskusi Online Urban Studies Issues melalui Google Meet, 29 April 2020.

Tangkapan layar Acara Diskusi Online Urban Studies Issues melalui Google Meet, 29 April 2020.