Pernah dengar Wae Rebo? Sebenarnya Wae Rebo adalah nama dusun yang menjadi bagian dari Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT. Namun karena karakteristik lokal yang menarik, Dusun Wae Rebo lebih dikenal sebagai desa adat yang saat ini menjadi destinasi wisata favorit para traveler, untuk melihat perkampungan adat yang masih lestari.

Beberapa tahun yang lalu aksesibilitas menuju Desa Adat Wae Rebo masih sulit dan membutuhkan total waktu sekitar 8 – 13 jam dengan rute perjalanan darat Labuan Bajo – Ruteng – Denge – Wae Rebo . Namun seiring dengan perkembangan infrastruktur, saat ini untuk menempuh perjalanan dari Labuan Bajo ke Desa Adat Wae Rebo hanya membutuhkan waktu 4 – 6 jam perjalanan darat dengan rute Labuan Bajo – Denge – Wae Rebo. Hal ini membuat Desa Adat Wae Rebo di wilayah pegunungan Flores, semakin banyak dikunjungi wisatawan.

Desa Adat Wae Rebo kini dikenal sebagai desa adat yang menawarkan atraksi wisata berupa kesempatan unik untuk melihat rumah – rumah adat Manggarai dan mengajak wisatawan mengikuti budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Di Desa Adat Wae Rebo, pengunjung dapat melihat rumah-rumah tradisional berbentuk kerucut dengan arsitektur yang sangat unik, yang masih di lestarikan sampai saat ini.

Rumah Adat Desa Wae Rebo, disebut Mbaru Niang. Terdapat 7 (tujuh) Mbaru Niang di Wae Rebo yang tersusun melingkar mengitari batu melingkar yang disebut compang sebagai titik pusatnya. Compang merupakan pusat aktivitas warga untuk mendekatkan dengan alam, leluhur, serta Tuhan. Arsitektur Mbaru Niang mengandung filosofi dan kehidupan sosial masyarakat Wae Rebo. Rumah tradisional ini merupakan wujud keselarasan manusia dengan alam serta merupakan cerminan fisik dari kehidupan sosial suku Manggarai. Suku Manggarai mempercayai lingkaran sebagai simbol keseimbangan, sehingga pola lingkaran ini diterapkan hampir di seluruh wujud fisik di desa, dari bentuk kampung sampai rumah-rumahnya.

Mbaru Niang berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga, masing-masing Niang terdiri dari 6 – 8 keluarga. Terdiri dari 5 (lima) lantai, masing-masing lantainya memiliki fungsi.

  • Lantai pertama disebut Lutur, berfungsi untuk tempat tinggal dan berkumpul keluarga. Dibagi menjadi tiga bagian, ruang terluar sebagai ruang keluarga, lalu ruang-ruang yang disekat dengan papan kayu sebagai kamar-kamar keluarga yang tinggal dan dapur yang terletak di tengah Lutur.
  • Lantai dua disebut Lobo, berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang sehari-hari.
  • Lantai ketiga disebut Lentar, gunanya untuk menyimpan benih tanaman untuk bercocok tanam.
  • Lantai empat disebut Lempa Rea berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan makan untuk paceklik atau saat gagal panen.
  • Lantai kelima disebut Hekang Kode, berfungsi sebagai tempat sesajian untuk leluhur masyarakat desa.

 

Struktur bangunan Mbaru Niang

Struktur bangunan Mbaru Niang

 

Desa Adat Wae Rebo pernah mendapat penghargaan UNESCO Asia Pasific Award Heritage Conservation, yang merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya pada tahun 2012. Mbaru Niang ini terkenal dengan keasliannya karena memiliki bentuk yang masih sama persis dengan bangunan yang didirikan oleh moyang suku Manggarai. Bentuk rumah panggung yang diterapkan menjadi rumah yang sesuai untuk kondisi alam di sekitar Desa Wae Rebo. Berdasarkan letak geografisnya, Desa Adat Wae Rebo berada pada wilayah aman gempa dan hutan liar, sehingga aman bencana dan menjadi tempat perlindungan dari hewan buas.

Desa Adat Wae Rebo ditinggali oleh 44 keluarga dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian. Mereka menanam kopi, cengkeh, dan umbi-umbian. Perempuan di Desa Adat Wae Rebo, selain memasak, mengasuh anak, dan menenun, juga membantu kaum lelaki di kebun. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat Desa Adat Wae Rebo menggunakan mata air yang berasal dari pegunungan. Mata air ini sangat berguna dalam setiap upacara adat serta mengairi lahan perkebunan milik mereka. Upacara adat yang berkaitan dengan mata air, dilakukan pada saat Upacara Adat Penti, karena menurut masyarakat Desa Adat Wae Rebo, air berperan sebagai pemberi kehidupan dan digunakan setiap hari, menjadi simbol keturunan yang tidak pernah berhenti mengalir.

Desa Adat Wae Rebo belum terjangkau jaringan listrik, sehingga masyarakat masih menggunakan lampu tradisional sebagai sumber utama pencahayaan pada malam hari. Untuk jaringan telepon, di Desa Adat Wae Rebo sudah terjangkau namun hanya dapat diakses oleh satu operator saja. Jaringan tersebut juga hanya dapat ditemukan di beberapa titik lokasi desa.

Keaslian budaya masyarakat Desa Adat Wae Rebo perlu mendapat perhatian serius agar tidak hilang seiring berjalannya waktu. Desa Adat Wae Rebo tengah berada dalam ancaman akibat adanya modernisasi yang melahirkan perubahan dalam bidang teknologi, pola pikir dan beberapa fasilitas penunjang.  Seperti berkurangnya waktu perjalanan menuju Desa Adat Wae Rebo. Padahal dengan waktu perjalanan yang lama akan membuat wisatawan menginap dan mengikuti aktivitas sehari – hari masyarakat Desa Adat Wae Rebo. Sehingga wisatawan akan merasakan sensasi wisata budaya dan turut serta melestarikan budaya Indonesia di kaki Pegunungan Flores, tidak hanya sekadar berfoto saja.

Jika keaslian budaya ini perlahan mulai hilang maka tidak ada lagi daya tarik yang menjadi magnet untuk menarik minta kunjungan wisatawan ke daerah itu. Tidak bisa terhindarkan jika modernisasi Desa Adat Wae Rebo masuk melalui para wisatawan yang datang. Ancaman semacam ini perlu dihadapi oleh lembaga adat dan masyarakat Desa Adat Wae Rebo dengan lebih berhati – hati dan kritis menghadapi perubahan yang diakibatkan oleh modernisasi.

Berbagai macam alasan dan upaya telah mewarnai perjuangan masyarakat Desa Adat Wae Rebo dalam mempertahankan keberadaan lembaga adat di Desa Adat Wae Rebo. Ada sejumlah alasan yang membuat masyarakat Desa Adat Wae Rebo masih ingin mempertahankan eksistensi lembaga adat mereka, diantaranya karena lembaga adat merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan yang datang ke sana dan menjadi media untuk menjaga perkampungan adat lestari ini tetap ada.

Tidak terpengaruh bukan modernisasi bukan berarti berhenti berinovasi. Pada prinsipnya, pengembangan desa adat perlu memperhatikan kelestarian budaya asli masyarkatnya. (BVY/SRNF/CARITRA)

 

Daftar Pustaka

Artanegara. 2008. Survey Cagar Budaya di Kampung Adat Wae Rebo. April. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/survey-cagar-budaya-di-kampung-adat-wae-rebo/.

Asdhiana, I Made. 2018. 5 Fakta Menarik tentang Wae Rebo di Flores. Maret. https://travel.kompas.com/read/2018/03/23/153100227/5-fakta-menarik-tentang-wae-rebo-di-flores?page=all.

Azizah, Nora. 2019. Kampung Adat Wae Rebo Mulai ‘Disusupi’ Unsur Modern. September. https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/19/09/25/pyd2m7463-kampung-adat-wae-rebo-mulai-disusupi-unsur-modern.

Lanur, Vinsenius S. C., and Elsa Martini. November 2015 . “Pengembangan Desa Wisata Wae Rebo berdasarkan Kearifan Lokal.” Jurnal Planesa Volume 6 Nomor 2, 60.