Kegiatan webinar yang diinisiasi oleh BEM Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan tema “The Fault in Our Community Development” telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 November 2020. Dr. Ir. Mahditia Paramita M.Sc, selaku CEO HRC Caritra menjadi salah satu pembicara dalam acara webinar tersebut bersama dengan Prof. Drs. Isbandi Rukminto Adi, M.Kes, PhD dan Pantoro Tri Kuswardono. Kegiatan webinar ini bertujuan untuk berbagi pengalaman mengenai bentuk program community development yang pernah dilakukan oleh masing-masing pembicara beserta tantangan yang dihadapi. Perspektif yang disajikan pun beragam yaitu Pak Pantoro Tri Kuswardono menyajikan dari sudut pandang NGO, ibu Mahditia Paramita melihat dari sudut pandang praktisi dan perencana, sedangkan Pak Isbandi Rukminto melihat dari sudut pandang pendidik dan dosen.

Pada sesi pertama, diisi oleh Pak Pantoro Tri Kuswandoro selaku Executive Director Perkumpulan Pikul menyampaikan materi mengenai bagaimana bentuk community development yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Pikul khususnya di Nusa Tenggara Barat. Pak Pantoro menganggap desa merupakan sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia dilihat dari sumber daya alam dan masyarakatnya namun hingga saat ini banyak wilayah perdesaan terutama di Indonesia Timur yang hak – hak nya belum dipenuhi oleh pemerintah. Oleh sebab itu, Pikul dibentuk untuk dapat memenuhi kebutuhan hak-hak dasar masyarakat terutama pangan, air, dan energi namun dengan tetap mempertahankan karakter masyarakat setempat. Fokus utama yang ingin dicapai oleh Perkumpulan Pikul ini adalah mendorong ketahanan masyarakat desa berdasarkan aset yang dimiliki, baik dalam aset fisik, lingkungan, sosial, politik, alam, finansial, dan informasi melalui pemberdayaan potensi lokal.

Di sesi kedua, Ibu Mahditia Paramita menyampaikan paparannya mengenai keberhasilan HRC Caritra untuk dapat memberdayakan komunitas. Pada dasarnya, untuk mengimplementasikan community development perlu dilakukan perencanaan bersama masyarakat demi kemajuan bersama. Hal tersebut dilakukan untuk menumbuhkan sense of community dan saling berkontribusi agar terwujud kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Ibu Mahditia berbagi pengalaman mengenai bagaimana keberhasilan community development yang dilakukan di kawasan terdampak bencana salah satunya di Dusun Serut, Kabupaten Bantul. Adanya keterlibatan dan peran aktif masyarakat dalam proses perencanaan hingga pengambilan keputusan merupakan kunci penting dari adanya community development agar mereka dapat merencanakan sesuai kebutuhan di masa depan. Selain itu, Ibu Mahditia juga memberi gambaran bahwasanya dalam melakukan community development, penting bagi kita untuk mengetahui sejarah desa atau kawasan tersebut agar nantinya dalam melakukan pemberdayaan masyarakat, kita tetap mempertahankan esensi kearifan lokal masyarakat berdasarkan karakteristik sosialnya.

Pada sesi ketiga, Prof. Drs. Isbandi Rukminto Adi, M.Kes., Ph.D selaku Guru Besar Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia, memaparkan mengenai community development dalam perspektif pendidikan atau teoritis. Community development atau pengembangan masyarakat merupakan suatu gerakan yang dirancang guna meningkatkan taraf hidup keseluruhan masyarakat melalui partisipasi aktif masyarakat sehingga masyarakat dapat memiliki daya (power) melalui kelompok masyarakat. Pada dasarnya, tahapan yang harus dilalui hingga masyarakat dapat berdaya antara lain dimulai dari tahap persiapan, tahap pengkajian, tahap perencanaan alternatif program, tahap formulasi rencana akses, tahap implementasi program, tahap evaluasi, dan yang terakhir tahap terminasi.

Kegiatan webinar ini diakhiri dengan sesi tanya jawab oleh peserta webinar dengan ketiga pembicara. Pada dasarnya pengembangan komunitas atau community development harus dilakukan dengan mengutamakan mereka yang kurang beruntung atau terabaikan sehingga dengan adanya pemberdayaan masyarakat, mereka bisa saling belajar dan menghargai pendapat untuk kemajuan bersama. Para pendamping atau fasilitator kegiatan pemberdayaan masyarakat memiliki peranan penting meskipun dalam pelaksanaanya kerap ditemui tantangan internal dan eksternal yang harus dihadapi baik kebijakan, perbedaan budaya, karakteristik masyarakat, maupun keterbatasan sumber daya. (WWT)