Yogyakarta – Di Yogyakarta, ada Kampung Kali Code dengan rumah yang warna-warni dan menarik wisatawan yang punya selera seni. Kampung unik ini tidak lepas dari jasa almarhum Romo Mangunwijaya

  1. Kondisi awal Kali Code

Cerita ini berawal di tahun 1980-an. Saat itu, bantaran Kali Code yang berada di pusat Kota Yogyakarta dipenuhi gubuk-gubuk liar dari kardus.

Penghuninya silih berganti dan tak diakui oleh pemerintah setempat. Konon penggusuran sudah dilakukan berkali-kali tapi tak pernah berhasil, gubuk-gubuk baru dibangun kembali dan menjamur lebih cepat.

“Rumah-rumah dari kardus, atapnya dari plastik atau terpal. Pokoknya apa saja yang ada asal tidak kepanasan. Soalnya kalau hujan ya rusak rumah kita,” ujar Joko Santoso (52) sambil tersenyum mengenang masa lalu.

Joko bercerita, saat itu permukiman yang terletak di sebelah selatan Jembatan Gondolayu ini dihuni gelandangan. Mulai dari pemulung, pedagang, tukang ojek, sampai pencopet ada di sana.

Sampai suatu hari, kata Joko, pada sekitar tahun 1982 banjir akibat luapan Kali Code menyapu rumah-rumah bedeng di bantarannya.

 

  1. Perkenalan dengan Romo Mangun

Saat bencana banjir itu, seorang pria paruh baya datang ke lokasi itu dengan membawa sejumlah bantuan. Namun rupanya pria berkaca mata itu semakin sering datang ke kawasan kumuh itu. Siapa sangka pria itu yang mengubah nasib Kampung Kali Code.

“Lalu kita tahu namanya Romo Mangun. Dia waktu itu sering ke sini, bicara kepada warga soal idenya untuk membangun rumah yang lebih layak, karena dia kasihan melihat kita kehilangan rumah karena banjir,” tuturnya.

Meski ada saja yang meragukan ide Romo Mangun, tapi sebagian besar warga menyetujui ajakan tersebut. Apalagi tak ada sepeser pun uang yang dikeluarkan oleh warga.

“Kami tidak tahu uangnya dari mana, kami hanya modal tenaga saja. Semuanya dari Romo Mangun, kami yang kerjakan. Kami kerja bakti beramai-ramai,” kata Joko.

Romo Mangun tak sendirian, Joko mengatakan ada beberapa mahasiswa yang ikut mengontrol pembangunan Kampung Code kala itu. Dibangun sedikit demi sedikit mulai tahun 1983 dan baru rampung pada 1985.

Ditambah lagi deretan rumah-rumah dari utara ke selatan yang menyambung harus diselesaikan bergantian agar warga tetap bisa tinggal di salah satu sisinya ketika sisi lainnya dibangun.

 

  1. Pembangunan Kampung Kali Code

Selama pembangunan Romo Mangun pindah ke bantaran Code. Pria kelahiran Ambarawa 6 Mei 1929 ini menempati sebuah rumah bedeng di sudut sebelah utara dekat dengan kolong jembatan. Dengan segala keterbatasannya, Romo Mangun mengawal pembangunan Kampung Code.

Dinding bangunan berderet dibuat setengah batu bata, kayu dan dikombinasikan dengan anyaman bambu. Meski sederhana, tapi tertata apik dan jauh lebih layak dibanding kondisi sebelumnya.

Sentuhan akhir dari pembangunan diserahkan Romo Mangun kepada para mahasiswa seni rupa dari Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang saat ini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

“Dari dulu ya warna-warni. Dilihat dari atas jembatan (Gondolayu) bagus sekali. Muralnya yang desain mahasiswa ASRI, warga yang ngecat,” tutur pria yang sudah tinggal di kampung Code sejak 1978 ini.

 

  1. Membangun fasilitas umum

Meski pembangunan rampung, Romo Mangun tetap tinggal di kampung tersebut hingga dua tahun kemudian. Selama tinggal di sana, dia perlahan memperkenalkan koperasi dan pendidikan yang layak kepada warga.

Sebuah balai yang sengaja dibangun di tengah kampung menjadi pusat kegiatan warga. Hampir setiap hari Romo bercengkrama dengan anak-anak di balai tersebut. Mereka belajar bersama atau sekedar membaca buku-buku yang sengaja diletakkan di sana.

“Beliau sangat dekat dengan anak-anak. Penyabar sekali,” kenang Joko.

Setelah kampung Code selesai ditata dan telah dihiasi mural warna-warni, banyak turis mancanegara yang datang berkunjung. Sejumlah penghargaan diraih atas gaya arsitektur kampung Code.

“Banyak yang datang ke sini sengaja untuk lihat arsitekturnya. Kami jadi ikut bangga,” ujar Joko sambil tersenyum lebar.

Kepercayaan diri masyarakat Kampung Code perlahan membuncah. Kesadaran mereka akan pendidikan untuk anak-anak juga meningkat.

 

  1. Menjadi destinasi wisata

Tak lagi kumuh, kini banyak orang yang datang dan berdecak kagum pada kampungnya. Pemandu wisata mulai memasukkan Kampung Code ke tujuan di paket-paket wisatanya.

Seiring berjalannya waktu, beberapa warga Kampung Code lebih memilih bekerja sebagai tukang becak dan sebagian lainnya berdagang kecil-kecilan. Banyak pula yang memilih berdagang angkringan di sepanjang jalan di atas perkampungan mereka. Angkringan ini juga hampir selalu ramai pembeli setiap malamnya, apalagi setiap musim liburan tiba.

Sedangkan Romo Mangun, akhirnya meninggalkan rumah bambunya di bantaran Kali Code pada sekitar tahun 1987. Sebuah mural wajah Romo Mangun berukuran besar terpampang di dinding yang ada di depan balai Warga di tengah kampung.

“Meski sudah tidak ada Romo Mangun di sini, tapi bangunan rumah kami ini jadi peninggalan yang akan kami pertahankan,” tuturnya.

 

  1. Mengenang jasa Romo Mangun

Setiap tahunnya di sebuah Gereja di Jetis, kata Joko, selalu ada acara yang digelar untuk memperingati hari meninggalnya Romo Mangun. Warga selalu diundang, dan senang hati menghadirinya sebagai bentuk hormat dan terima kasih yang tak terputus.

Memang kini sudah mulai muncul banyak bangunan baru di kampung Code. Mudah saja mengamatinya, bangunan asli yang didesain oleh Romo Mangun adalah bangunan yang berdinding anyaman bambu dan beratap seng.

Balai warga yang memiliki arsitektur unik berbentuk huruf A dengan cat warna-warninya hingga saat ini selalu ramai oleh berbagai kegiatan. Selain turis, kampung ini juga kerap didatangi mahasiswa yang ingin belajar, belajar apapun.

“Sering sekali mahasiswa-mahasiswa ke sini. Ada yang KKN (Kuliah Kerja Nyata) ada juga yang memberi bimbel ke anak-anak,” ujar Joko.