Backlog atau jumlah kekurangan rumah di Indonesia dianalisis oleh Realestat Indonesia (REI) dan para pengamat perumahan mencapai 15 juta unit pada tahun 2015. Jumlah ini tidak main-main, namun Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tampaknya sudah menyiapkan teknologi yang tepat untuk mengatasi Indonesia dari masalah ini.

Jumlah kekurangan rumah yang mencapai 15 juta unit di Indonesia sebenarnya bisa diatasi bila ada kemauan dari berbagai pemangku kepentingan. Pasalnya, teknologi murah dan tepat guna yang memungkinkan produksi rumah dalam jumlah besar dan cepat sudah tersedia. Balitbang PU, khususnya Puskim, sudah menyiapkan teknologi bernama “Risha”. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sudah menghasilkan Sistem Risha, hasil peneliti Puslitbang Permukiman Kementerian PU Arief Sabaruddin. Bagi para peneliti, “Risha” berarti “Rumah Instan Sederhana Sehat”. Sistem Risha sudah terbukti cepat, murah, dan aman dari bencana.

Pembuatan sistem Risha, dilatarbelakangi oleh kebutuhan dan rendahnya daya beli masyarakat umum di Indonesia. Menurut undang-undang, masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, harus memiliki hunian yang layak. Jika daya beli masyarakat rendah, maka perlu adanya terobosan teknologi berkualitas namun rendah biaya. Selain itu, karena kebutuhan hunian yang layak begitu besar dan terus bertambah, maka perlu juga solusi yang cepat dan tepat untuk penanganannya.

Untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah telah ada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 mengenai Perumahan dan Kawasan Permukiman, yang mengamanatkan rakyat Indonesia harus memperoleh hunian yang layak. Layak tapi dibatasi oleh keterjangkauan, karena masyarakat pada umumnya memiliki keterjangkauan yang masih rendah. Pusat litbang berusaha keras menghasilkan rumah-rumah dengan teknologi pembangunan rumah yang dapat dibangun secara massal dengan harga terjangkau. Salah satu hasilnya adalah Risha. Pada dasarnya, Sistem Risha adalah sistem pembangunan rumah yang menggunakan beton cetak atau precast concrete. Hanya dengan mencetak tiga modul dalam jumlah besar, rumah-rumah sederhana bisa dibangun dengan cepat. Beton dipilih karena penduduk Indonesia masih merasa adanya nilai prestise dalam penggunaan beton.  Sistem Risha juga sudah diuji tahan gempa. Jadi, untuk daerah rawan bencana, maka teknologi Risha sangat tepat untuk diterapkan dalam pembangunan hunian tetap pasca bencana. Selain itu, Sistem Risha dapat dikembangkan secara horisontal dan vertikal sesuai dengan kebutuhan ruang dan topografi lahan.

 

 

Sumber: kompas.com