Menurut Cohen dan Uphoff (1997:20) dalam jurnal penelitian yang berjudul Perencanaan Pembangunan Partisipatif dalam Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) di Desa Pangkalan Baru Kec. Siak Hulu Kab. Kampar menyatakan bahwa : “Partisipasi dapat dilihat dari berbagai pandangan (perspective). Keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan keputusan dan dalam mengimplementasikan program, serta menikmati keuntungan-keuntungan dari program tersebut. Keterlibatan masyarakat dalam mengevaluasi program, suatu proses aktif, dimana rakyat dari suatu komunitas mengambil inisiatif dan menyatakan dengan tegas otonomi mereka”.

Menurut FAO dalam jurnal yang sama, menafsirkan partisipasi yaitu kontribusi sukarela dari masyarakat kepada proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan dan keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukan sendiri.

Seperti yang dilakukan oleh warga Kampung Sindangkasih, Desa Sukamaju, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, mereka membangun desa wisata lewat swadaya masyarakat. Dari hasil swadaya tersebut, Desa Wisata Sindangkasih menawarkan wisatawan untuk dapat berwisata river tubbing dan wisata sejarah dengan mengunjungi bunker dan goa peninggalan masa penjajahan. Dilansir dari Kompas.com, “Warga kampung ini memang sejak lama terkenal dengan gotong royongnya, mereka sampai punya koperasi dengan aset sampai Rp 300 juta”, jelas Asep Edwin, Kepala Desa Sikamaju, Kecamatan Cilawu.

Ide awal dari pembangunan desa wisata ini terdorong dari keinginan masyarakat desa untuk mencari pendapatan lain selain dari sektor pertanian yang selama ini menjadi mata pencaharian warga. Menurut Asep Wawan, Wakil Ketua Pengelola Desa Wisata Sindangkasih, pembangunan desa wisata ini dimulai pada tahun 2015 dengan membuat usaha homestay, namun karena kurang berkembang maka muncul ide untuk mengembangkan wisata river tubbing dan wisata sejarah yang diresmikan pada tahun 2019.

Wisata River Tubing
Sumber : Dok. Desa Wisata Sindangkasih (Kompas.com)

Dalam pengembangan desa wisata ini, total lahan yang digunakan seluas 5 hektar yang tanahnya ini merupakan tanah milik 15 warga Desa Sindangkasih. Sedangkan untuk warga desa lainnya berkontribusi dalam membuka warung atau menjadi pengelola desa wisata. Pola kerjasama pemilik tanah dengan pengelola menggunakan sistem bagi hasil, dimana setiap tiga bulan penghasilan dibagi dengan porsi 40% untuk pemilik lahan dan 60% untuk pengelola ditambah dana pengembangan.

Untuk saat ini, pihak pengelola sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah, sedangkan untuk investor, pihak pengelola masih menolak. “Pernah datang investor menawarkan kerjasama, tapi warga menolak. Kalau bantuan dari pemerintah daerah sekarang mulai ada, kemarin Pak Bupati ngasih bantuan untuk penataan lahan parkir,” tambah Asep Wawan dikutip dari Kompas.com.

Dengan adanya pengembangan desa wisata di Desa Sindangkasih yang melibatkan masyarakat menjadi pengelola wisata, berdampak positif bagi peningkatan perekonomian warga Desa Sindangkasih. Seperti halnya Pak Sunar, salah satu warga Desa Sindangkasih mengungkapkan bahwa dulu mata pencariannya hanyalah sebagai petani, yang diselingi dengan mencari rongsokan dan barang-barang bekas. Saat ini, beliau sudah menjadi pengurus desa wisata dan pekerjaan mencari rongsokan dan barang bekas pun sudah ditinggalkan. “Alhamdulillah, sekarang kerja disini aja, tidak jauh dari rumah, rejeki alhamdulillah ada selama ada pengunjung. Jadi penghasilan tambahan buat warga sini, jadi selain bertani, bisa usaha di tempat wisata ini” ungkap Pak Sunar dikutip dari Kompas.com.

Dengan melibatkan masyarakat dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan, maka perencanaan desa senantiasa akan lebih tepat guna dan tepat manfaat. Karena dengan melibatkan masyarakat dalam perencanaan pembangunan mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan, senantiasa kita akan tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat dan potensi-potensi apa saja yang dapat dikembangkan di daerah tersebut. Didukung dengan budaya yang identik dengan masyarakat Indonesia yaitu gotong-royong dan musyawarah menjadikan pendekatan partisipatif akan efektif untuk dilakukan, dalam membangun potensi desa.

 

 

 

 

Sumber Referensi :

Khalisa, Marifah. 2017. Jurnal. Perencanaan Pembangunan Partisipatif dalam Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) di Desa Pangkalan Baru Kecamatan Hulu Kabupaten Kempar. FISIP. Vol. 4 No.2.

https://bandung.kompas.com/read/2022/01/21/165622178/dibangun-lewat-swadaya-masyarakat-desa-wisata-sindangkasih-garut-mampu?page=all#page2