Pengalaman dan keahliannya kini dicurahkan untuk bisa mewujudkan obsesinya, agar para planner di Indonesia berkesempatan dapat menata kota menjadi lebih baik lagi.

 

Perkenalan Mahditia pada dunia perumahan rakyat dan lingkunagn sekitarnya dimulai saat ia kuliah di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gajah Mada. Dari sanalah akhirnya ia nyemplung ke
dunia pengelolaan pemukiman. Selain belajar, Mahditia juga menekuni olahraga basket. Saat itu bermain basket baginya bukan sekedar hobi. Mahditia pun sempat mengikuti kompetisi basket wanita, Kobanita, untuk beberapa musim.

Sebagai seorang atlet aktifitasnya cukup padat dan menyita waktu, mulai dari pagi hingga malam hari. Namun, itu semua tak menghalanginya untuk menyelesaikan studi S1. “Dengan aktifitas yang cukup padat saat itu saya bersyukur bisa menyelesaikan kuliah”, ujarnya.

Setelah lulus pada 2003, wanita yang akrab disapa Tia ini berkeinginan melanjutkan studinya di luar negeri. Dirinya menginginkan untuk kuliah dengan waktu belajar sesingkat mungkin. Akhirnya pilihan jatuh pada Katholieke Universitiet Lauven di Belgia. Di Universitas ini, Tia mengambil jurusan Master of Architecture Human Settlements.

Di sana Tia belajar mengenai bagaimana cara menata kota termasuk juga kawasan pemukiman. Lalu juga belajar bagaimana memberikan subsidi rumah untuk masyarakat. berkesempatan keliling ke beberapa negara seperti India dan Belanda melihat bagaimana pengelolaan public housing. Di jurusan ini, mahasiswanya campuran, berasal dari negera-negara berkembang dan negara maju. Di tempat inilah wawasan Tia mengenai pengelolaan pemukiman perumahan semakin bertambah. Sebab, para mahasiswa dari berbagai negara tadi saling bertukar pengalaman dan membagi pengetahuan.

Saat tengah menyusun tesis, terjadilah bencana gempa bumi dahsyat i Yogyakarta, yang merupakan kampung halaman Tia. Mengetahui dampak kerusakan yang ditimbulkan gempa Yogya itu cukup hebat, membuat dirinya pun bertekad untuk sesegera mungkin kembali ke tanah air. Apa yang terjadi di film Habibie itu ternyata pernah dialami oleh saya, dalam film tersebut dikisahkan
Pak Habibie yang ingin terus tinggal di Jerman atau kembali ke Indonesia, “kata Tia. Sekembalinya dari Belgia pada 2007, ia pun langsung bergabung dalam program penanggulangan gempa di Yogyakarta, yakni Housing Resources Center (HRC).

HRC sendiri didirikan pada 2006, merupakan organisasi nirlaba di Yogyakarta yang bergerak dalam bidang perumahan dan tata kota. Didirikan oleh aktivitis perumahan, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Kementerian Perumahan Rakyat , dan program Pemukiman BangsaBangsa. Bergabung ke HRC membuat dirinya semakin jatuh hati pada dunia pemukiman rakyat, yang jauh dari sisi komersial.

Padahal sebagai arsitek lulusan luar negeri, bisa saja Tia pindah jalur bergabung dengan perusahaan pengembang swasta besar di negeri ini. Merancang pembangunan hotel, apartemen, gedung pencakar langit, ataupun pusat belanja (mal) modern. Tidak sepereti saat ini yang lebih banyak mengurusi rumah untuk rakyat, rumah bersubsidi, pengentasan pemukiman kumuh dan sebagainya.

Mahditia Paramita mengatakan melalui pekerjaan yang ia tekuni saat ini, banyak ilmu yang ia peroleh saat kuliah dapat berguna bagi masyarakat banyak. “Bekerja tidak hanya mengejar materi
saja, ada kepuasan tersendiri saat ilmu yang dimiliki dapat berguna bagi orang banyak,”ujarnya. Lagi pula, bagi Tia, pekerjaan yang ia kerjakan saat ini sangat fleksibel dalam hal waktu. “Ini membuat saya tetap sehat,’satanya sambil tertawa. Dari pengalaman dan keahlian yang dimilikinya saat ini Mahditia Paramita juga dipercaya oleh Word Bank sebagai personal consultant.

Menurtnya sebagai planner ( ahli tata kota) seperti dirinya punya kesempatan untuk berkontribusi besar terhadap lingkungan masyarakat disekitarnya. Planner dapat mempengaruhi pemerintah
baik pusat atau pun daerah mengeluarkan peraturan (kebijakan) untuk menata pemukiman masyarakat menjadi lebih baik. Baginya untuk bisa menata kota tidak perlu menjadi wali kota atau kepala daerah. Sejatinya hal ini menjadi semacam obsesi yang ingin diwujudkan Tia. Bagaimana caranya para planner dapat menata kota, tanpa harus menjadi walikota.

 

Mungkin bagi sebagaian pihak apa yang ingin diwujudkan oleh Tia sulit diwujudkan, namun tidak ada hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Apalagi saat ini menurutya Indonesia tengah
menghadapi krisis perencanaan kota. hal itu ditandai dengan semrawutnya kotakota yang ada di negeri ini. untuk itulah dibutuhkan para planner yang mampu memperbaiki kondisi ini.

 

Sumber: Majalah Rumah, Edisi Februari 2016