Eco-Bricks berasal dari kata Ecology yang berarti ekologi dan Bricks yang berarti Bata atau dapat disebut juga dengan bata ramah lingkungan. Namun jika ditinjau dari bahan dasar dari Eco-Bricks, kata bata penyelamat lingkungan mungkin lebih tepat digunakan daripada bata ramah lingkungan. Istilah penyelamat lingkungan lebih tepat digunakan karena bahan dasar sampah plastik sesungguhnya tidak ramah terhadap lingkungan jika terekspose dan berinteraksi langsung dengan matahari, panas, air, dan gesekan.

Dan lebih dari itu, Eco-Bricks adalah salah satu cara untuk menyelamatkan lingkungan dari sampah plastik yang tidak mudah terurai dalam waktu yang cukup lama.

Eco-Bricks adalah bata yang terbuat dari bahan dasar sampah botol plastik, sachet/ plastik kemasan yang kaku, dan kantong plastik yang lembut. Melalui TOT (Training on Training) diajarkan tentang pentahapan pembuatan dan standar kualitas yang harus dipenuhi untuk sebuah eco-brick. Adapun cara pembuatan adalah sebagai berikut:

Menyiapkan sampah bersih yang terdiri dari botol plastik, plastik halus dan lunak (kantong plastik), plastik kaku dan keras (sachet/ plastik kemasan makanan dan minuman). Adanya kewajiban untuk membersihkan sisa makanan, minuman dan sampah organik lainnya yang masih tertinggal diplastik dikarenakan beberapa sampah organik akan terus melanjutkan proses penguraian. Kertas merupakan material yang mudah terurai sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan.

Menggunakan kantong plastik yang lunak dan halus sebagai dasar botol dan menentukan warna plastik tersebut sebagai dasar botol sehingga dihasilkan komposisi yang indah saat dirangkai sebagai sebuah produk furniture atau bata sebagai bangku taman atau dinding bangunan jika diekspos.

 

Memotong sampah sachet/ plastik kemasan yang keras dan kaku menjadi kecil. Bentuk potongan bisa teratur maupun tidak teratur disesuaikan dengan hasil akhir bata yang diinginkan. Beberapa alternatif potongan adalah segitiga kecil, kotak kecil, atau potongan kawul. Semakin kecil potongan akan memudahkan untuk mendapatkan berat yang tinggi karena sampah yang dipotong kecil akan mengisi botol lebih efektif dan merata.

Mengunakan tongkat dengan ujung sedikit mengerucut yang terbuat dari kayu dan batu untuk mendesak sampah sampai kedasar botol sehingga didapatkan bata yang padat merata, keras disemua bagian dan berat minimal yang diharapkan.

 

Mendesak potongan sampah plastik kemasan yang keras dan kaku dengan plastik halus dan lembut. Plastik lembut dan halus membantu mengisi celah-celah kecil diantara potongan sampah plastik kemasan.

Mengisi botol hingga penuh dan padat. Perlu diperhatikan pengisian dan pemadatan botol tidak disarankan terlalu penuh agar tutup botol tidak melendut dan rusak.

Menimbang berat botol ketika penuh. Salah satu contoh adalah botol aqua yang berukuran 600 ml harus memenuhi berat minimum 200 gram.

Mengulangi cara diatas pada botol yang sama hingga memiliki beberapa eco-brick.

 

Setelah jumlah botol memenuhi module tertentu maka tahap selanjutnya adalah membuat modul. Beberapa modul dari botol aqua 600 ml yang telah dikembangkan oleh komunitas dan diajarkan saat TOT adalah module hexagonal (segi enam dengan 1 titik pusat), module triangle (segitiga dengan 3 titik pusat), module lego untuk pembuatan dinding portable.

 

Menggunakan lem kaca berbahan silikon atau semen organik untuk merangkai beberapa eco-bricks. Alternatif penggunaan semen organik adalah tidak mencemari lingkungan dan mengunci rapat Eco-Bricks sehingga tidak terekspose secara langsung dengan matahari, air, gesekan, binatang, dan panas. Sedang untuk penggunaan lem silikon lebih diarahkan untuk pembuatan susunan Eco-Bricks yang akan ekspose sehingga didapat sambungan yang lebih kuat dan bersih. Salah satu contoh penggunaan lem silikon adalah pada pembuatan bangku meja dan kursi dengan Eco-Bricks yang diekspose.

Menyambung dan membentuk sesuai kebutuhan dan keinginan.

 

 

 

Eco-Bricks bukan hanya sebuah solusi inovatif dibidang material, persampahan dan lingkungan, namun juga sebuah gerakan sederhana yang mudah diikuti dan menginspirasi. Informasi secara lengkap dan detil tentang sejarah, materi presentasi pembuatan eco-bricks, komunitas Eco-Bricks dan gerakan ini melalui www.eco-bricks.com. Dan lebih dari itu, data tentang siapa saja, seperti apa kualitas, berapa jumlah sampah plastik yang sudah di ubah menjadi Eco-Bricks oleh komunitas di seluruh dunia dapat juga diakses www.eco-bricks.com. Sebagai sebuah material inovatif, pendataan dilakukan selain untuk mengetahui seberapa baik kualitas Eco-Bricks yang pernah dilakukan oleh masyarakat seluruh dunia. Dan juga sebagai sebuah gerakan, pendataan dilakukan untuk mengetahui seberapa luas Eco-Bricks telah menginspirasi masyarakat di seluruh dunia. Dipilih kata singkat dan sederhana Eco-Bricks dengan akhiran ā€œsā€ juga untuk memudahkan dalam pencarian jejaring pembuat bata ini dan informasi melalui sosial media dan semangat bersama untuk menghasilkan lebih dari satu bata agar dapat memberi nilai tambah.

Beberapa pertanyaan yang cukup sering muncul saat TOT berlangsung di Sangkring Art Space Yogyakarta pada 12,13,14 Januari 2017 adalah apakah sampah plastik sachet/ kemasan plastik dapat diganti dengan material lain. Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah mungkin, namun perlu studi lebih lanjut. Ide dari penggunaan sampah plastik kemasan adalah jumlahnya yang besar serta jenis sampah ini tidak laku dipasaran sehingga sering berakhir di Tempat Pembuangan Sampah Akhir berupa gunung sampah kemasan, sering juga ditemui dibakar begitu saja. Pembakaran plastik akan meningkatkan carbon dan polutan yang berbahaya diudara yang pada akhirnya akan masuk kedalam tanaman melalui proses fotosintesa dan asimilasi. Dan apabila tanaman tersebut dikonsumsi oleh manusia akan berakhir di tubuh manusia. Mengingat proses panjang yang harus dilalui plastik sebelum digunakan karena bahan dasar plastik adalah minyak bumi yang membutuhkan jutaan tahun untuk terbentuk, maka membakar tanpa mengoptimalkan masa hidup yang panjang adalah sebuah kesia-sian. Maka Eco-Bricks tidak hanya memenuhi 3 R (Reduce, Reuse, Recycle) namun juga upcycle dari penggunaan beberapa jenis sampah Plastik.

Waste Material is Material too. Sesuatu berubah menjadi sampah dikarenakan material tersebut mencapai batas akhir konsumsi bagi sebagian konsumen tertentu. Namun sesungguhnya bagi konsumen yang mengetahui bagaimana memanfaatkan beberapa material, sampah dapat digunakan sebagai resource untuk diolah dan digunakan untuk kegunaan yang lain. (VS/HRC)

Selamat Mencoba dan Berkarya!