Sekitar 20 tahun lalu, orang Jepang belum melakukan pemilahan sampah. Namun saat ini, pengolahan sampah di Jepang sangat tertata. Pada mulanya pengolahan sampah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Tokyo, akan tetapi saat ini pengolahan sampah telah diambil alih oleh Asosiasi Pemrosesan Sampah Kota/Kecamatan. Asosiasi pemrosesan sampah tidak bertujuan mencari laba.  Tempat Pengolahan sampah dibangun diatas tanah seluas 44.400 m2, dengan rincian untuk bangunan pengolah sampah seluas 28.548 m2 dan bangunan administrasi 2.236 m2. Bangunan pengolah sampah dilengkapi dengan Stack berupa silinder bertulang baja setinggi 130 m. Fasilitas Slag stock dengan konstruksi bertulang baja setinggi 9,6 m. Tempat Pengolahan sampah dibangun dengan modal 29 Milyar yen dengan pegawai 36 orang. Metode pembakaran TPS dengan cara Fully continuous combustion dengan kapasitas 600 ton per hari. Hasil pembakaran sampah berupa debu, kemudian dipanaskan lagi dengan suhu 3000°C sehingga dapat diperoleh material bangunan yang disebut slag. Material dari sampah tersebut sangat bernilai sebagai material baru untuk konstruksi bangunan. Masyarakat Jepang terkenal sangat serius dalam menangani sampah. Tidak hanya tidak boleh membuang sampah sembarangan, melainkan juga harus memisahkan-misahkan berbagai jenis sampah sebelum dibuang, jadi tidak ada sampah yang di masukkan kedalam kantong sampah secara “borongan”.

Secara prinsip, sampah di Jepang dibagi menjadi 4 jenis :

• Sampah bakar (conbustible)
• Sampah tidak bakar (nonconbustible)
• Sampah daur ulang (recycle)
• Sampah ukuran besar

Di negara Jepang, Ada jadwal di hari hari tertentu yang mengatur jenis sampah yang harus dibuang, Petugas sampah akan mengambil sampah tiap hari sesuai jadwal dan jenis sampahnya.

Teknik pengolahan sampah yang dilakukan di Jepang :

  1. Truk-truk sampah masuk ke pusat pengolahan melalui pintu utama.
  2. Truk sampah ditimbang untuk mengetahui berat sampah yang dibawa.
  3. Sampah-sampah dimasukan ketempat pembakaran.
  4. Ampas hasil sampah digunakan membuat cone-block untuk trotoar lingkungan setempat.
  5. Cairan dari sampah basah, tempat pengolahan memiiki mesin penyulingan air yang fungsinya membersihkan air dari sampah, sebelum dialirkan lagi kesungai.

Sistem daur ulang di Jepang, menganut dua langkah besar:

1. Pemisahan material dan pengumpalan
2. Pemrosesan dan daur ulang sampah.

Kesadaran, gotong royong dan kerjasama yang baik antarwaga, pemerintah dan segenap elemen masyarakat menjadikan pengolahan sampah di Jepang dapat berjalan lancar.

Sumber: http://informasi-lingkungan.blogspot.com/