Peralihan ke kota hijau harus menjadi peluang untuk menyelesaikan masalah ekonomi, lingkungan dan kemanusiaan. Lebih dari sekedar seremoni atau praktik business as usual, aksi menciptakan kota hijau ini harus disertai dengan target-target terukur yang bisa menjadi solusi masalah di bumi.

Disertai berinvestasi pada infrastruktur serta teknologi yang efisien, peralihan ke kota hijau akan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi kerusakan lingkungan dan kemiskinan serta memangkas emisi gas rumah kaca, penyebab perubahan iklim dan pemanasan global.

Hal ini terungkap dari laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dirilis Selasa (17/9). Menurut PBB, kota-kota dunia selama ini mengonsumsi 75% sumber daya alam. Sebanyak 70% penduduk bumi diperkirakan akan tinggal di perkotaan pada 2050.

Salah satu kota yang berhasil beralih ke konsep kota hijau adalah kota Melbourne, Australia. Melbourne berhasil mengurangi emisi hingga 40% dengan memerkenalkan aksi efisiensi energi di bangunan-bangunan publik.

Sementara kota Cape Town, Afrika Selatan berhasil mengubah perumahan kelas bawah menjadi pemukiman yang layak huni, melengkapi perumahan tersebut dengan pemanas air dan penerangan yang efisien. Hasilnya, Cape Town berhasil mengurangi polusi karbon sebesar 6.500 ton per tahun. Mereka juga berhasil menciptakan lapangan kerja hijau baru, mengurangi jumlah penderita penyakit pernafasan hingga 75% serta mengurangi biaya listrik untuk pemanas air bagi keluarga miskin.

Laporan berjudul “City-Level Decoupling: Urban Resource Flows and the Governance of Infrastructure Transitions” ini disusun oleh International Resource Panel (IRP) bekerja sama dengan program lingkungan PBB (UNEP). Tim peneliti menganalisis aksi-aksi kota hijau di 30 kota dunia.

Menurut PBB, kota-kota dunia masih memerlukan penambahan infrastruktur sebesar 60% guna memenuhi kebutuhan populasi urban pada 2050. Biaya untuk membangun infrastruktur antara tahun 2000 hingga 2030 ini diperkirakan mencapai $40 triliun – baik untuk membangun infrastruktur baru (di negara-negara berkembang) atau memperbaiki bangunan-bangunan lama (terutama di negara-negara maju).

Salah satu infrastruktur penting adalah sistem transportasi hijau. Di kota Lagos, Nigeria, pemerintah memerkenalkan sistem Bus Rapid Transit (BRT) guna mengurai masalah polusi dan kemacetan yang semakin parah. Hasilnya, kota Lagos berhasil mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi perkotaan sebesar 13%. Waktu perjalanan juga berhasil dipangkas hingga 50% dan seperempat penglaju (pelaku komuter) yang dilewati oleh BRT menggunakan jasa ini.

Kota Durban, Afrika Selatan, melakukan aksi pengolahan limbah sebelum menggunakan kembali air tersebut untuk irigasi. Di tempat pembuangan sampah, pemerintah berhasil mengubah metana yang dihasilkan dari emisi limbah menjadi listrik senilai $20.000 per bulan. Pemerintah kota juga menggalakkan aksi reboisasi dengan menanam tanaman-tanaman lokal guna mencegah kerusakan keanekaragaman hayati di lokasi pembuangan sampah.

Dilandasi oleh keterbatasan sumber daya alam, negara kota Singapura menetapkan target konsumsi air domestik sebesar 10% pada 2030. Singapura memanfaatkan teknologi canggih guna mengubah air limbah menjadi air yang aman untuk dikonsumsi dan digunakan kembali oleh industri. Air limbah yang telah diolah ini ditargetkan mampu memasok 30% kebutuhan air Singapura pada 2030.

Pemerintah Singapura telah berinvestasi pada pabrik pembersihan air, memerbaiki kebocoran pipa, dan langkah-langkah lain guna mencapai target konsumsi air domestik sebesar 10% dalam waktu dekat ini.

Masih banyak contoh aksi riil dalam menciptakan kota hijau. Kota Johannesburg menanam lebih dari 2,5 juta pohon di hutan kota guna memastikan ketersediaan ruang hijau, agar keanekaragaman hayati dan kualitas air di kota itu terjaga.

Kota Linköping, Swedia, membangun sistem transportasi hijau kelas dunia dengan menggunakan biogas – yang berasal dari limbah perkotaan – sebagai bahan bakar bus dan kereta sehingga bisa mengurangi emisi CO2 hingga 9.000 ton per tahun. Aksi ini juga mampu mengurangi ketergantungan kota terhadap sumber daya alam sehingga bisa memerbaiki ekonomi, menciptakan lapangan kerja serta mengentaskan kemiskinan. Semua itu sesuai dengan konsep pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.

Pada 2050, dunia akan mengalami penambahan 3 miliar penduduk. Menurut PBB, sebagian besar populasi ini berada di kota-kota Asia dan Afrika. Jika negara-negara maju terus menghadapi masalah lingkungan baru, demikian juga dengan kota-kota di Asia dan Pasifik – termasuk Indonesia – yang masalahnya akan semakin kompleks. Banyak aksi dan target riil yang bisa diterapkan untuk menciptakan kota hijau, kota yang bahagia dan ramah lingkungan.

Menciptakan kota hijau di Indonesia bukan mimpi. Bogor dan Balikpapan telah berencana menjadikan kota mereka sebagai kota yang rendah karbon. Kota Surabaya, Bandung, Depok, Solo dan Jakarta juga ingin beralih menjadi kota hijau. Namun, akankah aksi-aksi mereka membawa perubahan yang berarti? Waktu yang akan menjawabnya.

 

Sumber: Hijauku.com